Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan internasional. Anggota Komisi I DPR RI Syahrul Aidi Maazat menilai konflik tersebut berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta konsisten menolak segala bentuk penjajahan di dunia.
Menurut Syahrul, sikap tersebut merupakan fondasi penting bagi Indonesia dalam menyikapi berbagai konflik global yang terus berkembang.
Syahrul menjelaskan bahwa sejak awal Indonesia telah menegaskan posisinya sebagai negara non-blok yang tidak berpihak pada kekuatan geopolitik tertentu.
Karena itu, Indonesia perlu menilai konflik internasional secara objektif dengan mengedepankan prinsip hukum internasional.
Indonesia adalah negara non-blok dan secara konstitusi kita juga mengutuk penjajahan. Karena itu kita harus melihat konflik ini secara objektif dan berdasarkan prinsip hukum internasional,”
ujar Syahrul saat pertemuan Komisi I DPR RI dengan jajaran TNI di Markas Komando Daerah Militer XX, Jumat 6 Maret 2026.
Serangan Amerika Serikat Dipertanyakan
Dalam pandangannya, serangan Amerika Serikat terhadap Iran menimbulkan sejumlah pertanyaan, terutama terkait legitimasi internasional.
Syahrul menilai tindakan tersebut tidak memiliki mandat dari organisasi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan menurutnya, di dalam negeri Amerika Serikat sendiri muncul kritik publik yang mempertanyakan motif konflik tersebut.
Tidak ada legitimasi dari PBB atau lembaga internasional. Ini yang menjadi pertanyaan besar. Bahkan di Amerika sendiri sudah muncul suara publik yang menilai konflik ini lebih banyak untuk mengamankan kepentingan Israel,”
kata politisi Fraksi PKS tersebut.
Syahrul juga menilai situasi geopolitik di Timur Tengah berpotensi semakin memanas setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Kondisi tersebut dinilai bisa memicu respon militer yang lebih agresif dari Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Iran tidak berhenti melakukan serangan balasan. Bahkan mereka menyasar pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Ini menunjukkan konflik bisa melebar,”
ujarnya.
Perlindungan WNI Jadi Prioritas Pemerintah
Di tengah ketegangan yang meningkat, Syahrul memastikan pemerintah Indonesia telah memiliki mekanisme perlindungan bagi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri.
Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah memiliki prosedur tetap yang diterapkan ketika terjadi konflik atau situasi darurat di negara lain.
Sudah ada SOP ketika terjadi konflik atau chaos di suatu negara. WNI di luar negeri selalu diminta berkoordinasi dengan KBRI, termasuk jika diperlukan evakuasi,”
jelasnya.
Lebih jauh, Syahrul menilai konflik geopolitik global seharusnya menjadi refleksi bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional di berbagai sektor strategis.
Ia mencontohkan Iran yang mampu bertahan meskipun menghadapi embargo internasional selama puluhan tahun. Menurutnya, negara tersebut tetap mampu mengembangkan teknologi pertahanan secara mandiri.
Iran ini diembargo puluhan tahun tapi masih survive. Bahkan mampu memproduksi senjata canggih yang mengejutkan dunia,”
katanya.
Syahrul menegaskan bahwa ada tiga sektor utama yang harus dikuasai oleh suatu negara agar memiliki kekuatan nasional yang kokoh.
Ketiga sektor tersebut adalah ketahanan pangan, kemandirian produksi obat-obatan, serta kemampuan industri pertahanan.
Kalau negara bisa memproduksi pangan, obat, dan senjata sendiri, maka negara itu akan kuat,”
tegasnya.



