Empat warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban penyanderaan oleh perompak di perairan Hafun, Somalia. Salah satu korban adalah Kapten Ashari Samadikun (33) yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan.
Insiden ini terjadi setelah kapal tanker MT Honour 25 berlayar dari Oman pada 21 April 2026 dengan muatan minyak menuju perairan Somalia.
Dalam pelayaran tersebut, kapal diduga tidak mendapatkan pengawalan keamanan, sehingga menjadi sasaran aksi perampokan.
Selain 4 WNI, terdapat 14 awak kapal lain yang ikut disandera, masing-masing berasal dari Pakistan, Myanmar, Sri Langka, dan India. Dengan total kru yang berasa di kapal berjumlah 18 orang.
Kronologi Penyandraan
Kabar penyanderaan ini, pertama kali diketahui setelah Ashari menghubungi istrinya, Santi Senaya (26) melalui pesan suara WhatsApp pada 21 April 2026 sekitar pukul 08.00 WITA.
Pesan yang disampaikan korban, bahwa dirinya bersama kru lainnya disandera oleh kelompok perampok.
Setelah komunikasi tersebut, Ashari tidak dapat dihubungi kembali selama beberapa jam. Telepon selulernya hanya berdering tanpa respon sebelum akhirnya tidak aktif.
Empat hari kemudian, tepatnya 2 April 2026, korban kembali menghubungi keluarga melalui panggilan video.
Dalam percakapan tersebut, korban menyampaikan bahwa dirinya masih dalam kondisi selamat, meski situasi di atas kapal tidak menentu dan berada di bawah ancaman perampok.
Tanggapan Pemprov Sulawesi Selatan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan langsung mengkoordinasikan dengan pemerintah pusat. Gubernur Sulsel Andi Ardiman Sulaiman menyatakan, pihaknya telah menghubungi keluarga korban dengan kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri.
Kali telah menyambungkan keluarga korban dengan pihak Kementerian P2MI dan Kementerian Luar Negeri. Ini terus kami monitor perkembangannya,”
kata Andi pada 28 April 2026.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel Jayadi Nas mengunjungi keluarga korban di Kabupaten Gowa untuk memberikan pendampingan serta memastikan komunikasi dengan pemerintah pusat berjalan lancar.
Hingga kini, kasus ini tengah ditangani melalui jalur diplomasi dengan melibatkan otoritas internasional, mengingat lokasi kejadian berada di perairan rawan kejahatan lintas negara.
Desakan DPR dan Upaya Pembebasan
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkrit guna membebaskan para sandera.
Menurutnya penting adanya koordinasi antara Kementerian Luar Negeri, Kementrian P2MI, serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam upaya penyusunan strategi pembebasan yang matang dan terukur.
Kementerian Luar Negeri harus segera berkoordinasi dengan kementerian PPMI serta TNi dan lembaga terkait lainnya untuk menyusun strategi pembebasan yang matang dan terukur.”
ujar Syamsul pada 29 April 2026.
Syamsu juga mengatakan, pendekatan diplomasi dan kerjasama internasional perlu dikedepankan untuk meminimalkan risiko terhadap keselamatan para sandera, terlebih karena korban berasal dari berbagai negara.
Membebaskan Sandera
Saat ini keluarga berharap agar pemerintah dapat segera membebaskan para sandera dalam kondisi selamat.
Hingga kini, komunikasi terakhir menunjukkan korban masih selamat, namun dalam posisi tidak menentu karena adanya ancaman dari perampok.
Selain tu, pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu perkembangan resmi terkait proses penanganan kasus tersebut.



