Belakangan kasus kekerasan di daycare memicu kekhawatiran publik. Bukan sekadar ulah oknum, fenomena ini dinilai memiliki akar masalah yang lebih kompleks, mulai dari tekanan kerja pengasuh hingga lemahnya sistem pengawasan.
Psikolog Meity Arianty menilai, kondisi ini dapat berdampak serius terhadap perkembangan emosional anak, terutama pada masa golden age.
Dilihat dari sudut pandang psikologis, kekerasan di lingkungan daycare sering kali merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor individu pengasuh dan tekanan lingkungan kerja yang tidak terkelola dengan baik,”
ujar Meity kepada Owrite.id.
Adapun beberapa faktor utama yang menyebabkan kekerasan terhadap anak terjadi di daycare, berikut rangkumannya.
Beban Kerja Tinggi
Pengasuh sering kali menghadapi beban kerja tinggi dengan tuntutan emosional yang besar. Tanpa kemampuan regulasi emosi yang baik, kelelahan kronis (burnout) dapat mengikis empati, sehingga mereka cenderung bereaksi secara impulsif atau agresif saat menghadapi perilaku anak yang menantang, gaji rendah, pekerjaan di luar batas, tekanan dari atasan yang tidak manusiawi melahirkan pekerja-pekerja yang modelnya kurang lebih sama.
Pengasuh Memiliki Tekanan Pribadi
Secara psikologis, pengasuh mungkin mengalami tekanan dari masalah pribadi atau manajemen daycare. Tekanan ini kemudian dialihkan (displacement) kepada subjek yang dianggap lebih lemah dan tidak berdaya, yaitu anak-anak, sebagai cara untuk melepaskan rasa frustrasi mereka.
Pengasuh Tidak Memiliki Pengalaman Perkembangan Anak
Tidak semua pengasuh memiliki pemahaman mendalam tentang lama perkembangan anak. Tanpa dasar ilmu psikologi perkembangan, perilaku wajar anak (seperti menangis atau tantrum) sering kali disalahartikan sebagai bentuk “pembangkangan” yang harus ditundukkan dengan kekerasan fisik atau verbal.
Lingkungan Kerja yang Menoleransi Tindakan Kasar Kecil
Lingkungan kerja yang menoleransi tindakan kasar kecil (seperti membentak atau menarik paksa) dapat menciptakan normalisasi. Seiring waktu, pengasuh mengalami desensitisasi, di mana mereka tidak lagi merasa bersalah saat melakukan tindakan kekerasan yang lebih berat karena menganggapnya sebagai bagian dari metode “pendisiplinan”, itu sebabnya saya sering menyampaikan bullying sekecil apapun jangan di normalisasikan, bisa jadi besar nantinya.
Tanggung Jawabnya Berkurang
Dalam organisasi yang pengawasannya longgar, pemilik atau yayasan pekerja sering merasa tanggung jawab moralnya berkurang karena merasa “tidak ada yang melihat” atau merasa itu adalah tanggung jawab bersama, sehingga kontrol diri terhadap perilaku agresif menjadi melemah. Itu sebabnya saya sering mengatakan ke orang tua, memilih daycare yg paling utama apakah di berikan akses seluas-luasnya untk melihat anak anda, CCTV wajib ada.





