Rencana pemerintah mengkonversi penggunaan LPG 3 kilogram (kg) ke compressed natural gas (CNG) mulai memunculkan kekhawatiran baru, tidak hanya dari sisi ketahanan energi dan beban impor, tetapi juga menyangkut aspek keamanan masyarakat.
Di tengah dorongan pemerintah mencari alternatif energi, para pakar mengkritisi penggunaan CNG untuk kebutuhan domestik masih memerlukan kajian mendalam, terutama terkait kesiapan infrastruktur, distribusi, hingga standar keselamatan penggunaan di tingkat rumah tangga.
Kebijakan ini pun dinilai berisiko apabila diterapkan terlalu cepat tanpa uji coba dan mitigasi yang matang.
Isu ini mencuat setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, memberikan bocoran mengenai persiapan penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG.
Langkah ini diambil untuk menekan impor energi dan meningkatkan efisiensi serta kemandirian energi nasional.
Bahlil menjelaskan, bahwa penggunaan CNG sebenarnya mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nantinya, bahan baku dari gas tersebut berasal dari dalam negeri.
CNG ini adalah sama juga gas, tapi dia bukan LPG dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran dan beberapa MBG-MBG. Tetapi untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat,”
kata Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa pada awal Mei lalu.
Selain itu, Bahlil juga menegaskan bahwa penggunaan CNG jauh lebih murah, dengan selisih harga 30-40 persen. Namun, politisi Partai Golkar itu tidak mengelak bahwa masih terdapat sejumlah tantangan.
Ini cost-nya lebih murah 30-40% Pak Rektor, dan ini tantangannya juga banyak. Saya bilang tidak ada urusan untuk efisiensi, kebaikan dan pelayanan rakyat, apapun kita pertaruhkan untuk kita wujudkan agar kita mandiri,”
ujar Bahlil.
Tak Bisa jadi Kebijakan Jangka Panjang
Pengamat tambang dan energi Ferdi Hasiman menilai, penggunaan CNG memang dapat menjadi solusi sementara untuk membantu menutup kekurangan pasokan LPG bersubsidi. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut tidak bisa dijadikan strategi jangka panjang.
Ferdi menegaskan, bahwa pemerintah perlu memperhitungkan risiko keamanan dalam penggunaan CNG di sektor rumah tangga.
Sebab, berbeda dengan LPG yang selama ini sudah memiliki sistem distribusi dan pola penggunaan yang relatif familiar di masyarakat, penggunaan CNG membutuhkan infrastruktur serta teknologi pendukung yang berbeda.
Mulai dari sistem penyimpanan, tekanan gas, hingga mekanisme pemakaian dinilai perlu diuji secara menyeluruh agar tidak memicu potensi kecelakaan di masyarakat.
Karena itu, Ferdi menilai implementasi CNG tidak bisa sekadar dipandang sebagai solusi cepat di tengah tekanan impor energi.
Kesiapan Infrastruktur dan Kebijakan Dipertanyakan
Lebih jauh, wacana penggunaan CNG untuk rumah tangga kini tidak hanya diperdebatkan dari sisi efisiensi energi, tetapi juga memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai keamanan, kesiapan infrastruktur, dan arah kebijakan energi nasional ke depan.
Ferdi juga menilai rencana konversi LPG 3 kilogram (kg) ke CNG memang dapat menjadi solusi sementara di tengah tekanan pasokan energi dan situasi geopolitik global yang memanas. Namun, ia menegaskan kebijakan tersebut tidak bisa dijadikan strategi jangka panjang.
Menurutnya, penggunaan CNG hanya dapat membantu pemerintah untuk sementara waktu dalam menutup kekurangan pasokan LPG yang selama ini banyak berasal dari Timur Tengah.
Untuk jangka pendek bagus, artinya, dengan adanya solusi minimal kita sudah sedikit aman. Sangat membantu karena selama ini impor LPG paling besar dari Timur Tengah. Tapi untuk jangka panjang kita enggak bisa terus-terusan,”
kata Ferdi kepada owrite, Jumat, 8 Mei 2026.
Selain itu, Ferdi juga mengingatkan bahwa penggunaan CNG untuk kebutuhan rumah tangga masih memerlukan kajian mendalam dari sisi keamanan.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh gegabah menerapkan kebijakan tersebut tanpa uji coba dan sosialisasi yang matang kepada masyarakat.
Ia pun mengingatkan pengalaman awal penggunaan LPG yang sempat memunculkan berbagai insiden ledakan akibat kurangnya kesiapan dan pengawasan.
Yang paling penting adalah kehati-hatian untuk menggunakan di awal supaya jangan terjadi hal-hal yang buruk. Karena awal-awal dulu LPG juga banyak yang meledak. Jadi perlu ada antisipasi, perlu dicoba dulu, disosialisasikan dengan baik,”
ujarnya.
Menurut Ferdi, pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur, tabung, hingga sistem distribusi apabila ingin menerapkan CNG secara luas untuk rumah tangga.
Ia menilai, masyarakat juga perlu diberikan pemahaman dan penyuluhan karena penggunaan CNG sebagai bahan bakar dapur masih tergolong baru di Indonesia.
Ini barang baru untuk kita, jadi harus ada uji coba dulu. Kalau memang aman dan terkendali baru diterapkan,”
bebernya.
Diketahui, CNG merupakan bahan bakar gas yang dihasilkan dari proses kompresi gas alam, terutama yang mengandung metana (C1) dan etana (C2). Gas tersebut kemudian disimpan dalam tabung bertekanan tinggi sekitar 200–250 bar atau setara 2.900 hingga 3.600 psi.



