Jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang disiapkan menjadi pengelola Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal dunia saat mengikuti latihan bela negara dan manajerial bertambah menjadi lima orang.
Kelima peserta yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufik, Hanisya Musyarrafah, Novia Ramadani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Diasari.
Mereka meninggal dalam rentang 17 hingga 26 Juni 2026 dengan penyebab berbeda-beda, mulai dari henti jantung, heat stroke, tuberkulosis (TBC), hingga pneumonia yang disertai komplikasi medis.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan duka cita atas meninggalnya lima peserta tersebut.
Pertama-tama, atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional, dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI,”
kata Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kemhan, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Dinyatakan Memenuhi Syarat Kesehatan
Meski lima peserta meninggal dunia, Kemhan menegaskan seluruh peserta sebelumnya telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan untuk mengikuti pendidikan.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, hingga kesehatan jiwa.
Seluruh peserta sebelumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan seperti laboratorium darah, urine, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa,”
ujarnya.
Meninggalnya lima peserta dalam waktu kurang dari dua pekan membuat Kemhan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan dalam penyelenggaraan program.
Atas arahan Menteri Pertahanan, penguatan aspek kesehatan peserta menjadi perhatian utama. Pemeriksaan berkala bagi peserta yang memiliki faktor risiko, penyesuaian intensitas kegiatan sesuai dengan kondisi peserta, serta penguatan pengawasan medis di satuan pendidikan,”
kata Ketut.
Selain itu, Kemhan juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit, khususnya penyakit paru dan penyakit menular di lingkungan pendidikan.
Ketut menegaskan, latihan bela negara dan manajerial yang dijalani peserta bukan pendidikan militer dan tidak dimaksudkan untuk mencetak prajurit.
Kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya sebagai calon manajer pengelola Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih,”
tegasnya.
Menurut dia, pelatihan tersebut ditujukan untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, serta kemampuan bekerja sama dan mengabdi kepada masyarakat.

















