Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sebanyak 40.759 siswa menjadi korban keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak program tersebut dijalankan pada 2025 hingga 31 Juli 2026.
Koordinator Advokasi Seknas JPPI Ari Hardi mengatakan, angka tersebut merupakan hasil pemantauan yang dilakukan organisasinya terhadap berbagai kasus keracunan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Ya. Berdasarkan pemantauan JPPI, sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan pada 2025 hingga 31 Juli 2026, telah terjadi 40.759 korban keracunan di berbagai daerah di Indonesia. Khusus periode Januari hingga 31 Juli 2026, JPPI mencatat 130 kasus keracunan dengan 10.886 korban,”
kata Ari pada Owrite, Jumat, 7 Agustus 2026.
Bukan Cuma Angka Statistik


Menurut Ari, besarnya jumlah korban tidak boleh dipandang sebagai sekadar angka statistik. Ia menilai, puluhan ribu anak telah menjadi korban dalam program yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan peserta didik.
Bagi JPPI, angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah puluhan ribu anak yang menjadi korban dalam program yang seharusnya melindungi dan meningkatkan kualitas hidup mereka,”
ujarnya.
JPPI juga menyoroti minimnya keterbukaan pemerintah terkait penanganan kasus-kasus tersebut. Ari menilai hingga kini pemerintah belum memberikan informasi secara komprehensif mengenai jumlah korban secara nasional.
Yang lebih memprihatinkan, hingga hari ini pemerintah belum menunjukkan transparansi penuh mengenai data nasional, hasil investigasi setiap kasus, pihak yang bertanggung jawab, maupun langkah korektif yang dilakukan. Padahal program ini dibiayai oleh uang rakyat,”
kata dia.
Keracunan MBG Masih Mencuat


Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kasus dugaan keracunan massal akibat konsumsi MBG juga kembali mencuat.
Pada 28 Juli 2026, sedikitnya 120 murid dan guru di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri di Jayapura dilaporkan jatuh sakit setelah menyantap makanan dalam program MBG.
Kasus serupa kembali terjadi pada 31 Juli 2026 di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Semarang. Sebanyak 707 siswa dan guru diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Sebagian besar korban dilaporkan mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan diare.


























