Penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki hari kedelapan. TNI terus memperkuat dukungan di wilayah terdampak dengan mengerahkan ribuan personel, puluhan alutsista, serta ratusan ton bantuan untuk masyarakat.
Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi mengatakan hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, 5.832 personel TNI telah dikerahkan untuk mendukung penanganan bencana di NTT.
“Hingga Sabtu, 5.832 personel dikerahkan untuk mendukung penanganan bencana. TNI terus melakukan penanganan dampak gempa bumi di NTT, serta membantu masyarakat di wilayah terdampak,”
kata Agung dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu, 23 Agustus 2026.
Pengerahan personel tersebut menjadi bagian dari upaya TNI untuk mendukung penanganan bencana sekaligus membantu kebutuhan masyarakat di wilayah yang terdampak gempa.
Percepat Bantuan
Selain mengerahkan personel, TNI mengoptimalkan dukungan alutsista untuk mempercepat mobilitas dan distribusi bantuan.
“TNI mengerahkan 27 unit alutsista, terdiri dari 21 pesawat, 5 KRI, dan 1 Kapal AD ADRI,”
ucap Agung.
Pengerahan puluhan alutsista tersebut digunakan untuk menunjang mobilitas personel, distribusi bantuan, hingga kegiatan penanganan bencana di sejumlah wilayah terdampak.
TNI juga kembali mengirimkan bantuan melalui jalur udara.
“Pada hari kedelapan pascagempa, TNI kembali mengirimkan 41,727 ton bantuan melalui jalur udara,”
ujar Agung.
Dengan tambahan bantuan tersebut, total logistik yang telah dikirimkan TNI selama penanganan bencana mencapai 695,170 ton. Penanganan gempa tidak dilakukan TNI secara sendiri, koordinasi terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan lembaga terkait.
“TNI terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, dan instansi terkait dalam penanganan bencana serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak,”
tutur Agung.
Koordinasi lintas instansi tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan pada fase pascabencana, terutama untuk memastikan dukungan personel, mobilitas, dan logistik dapat menjangkau masyarakat di wilayah terdampak gempa.
Penyebab
Gempa bumi utama berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,41° LS; 121,39° BT atau berlokasi di laut pada jarak 30 kilomter arah timur laut Nagegeo, NTT dengan kedalaman 15 kilometer akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerjunkan tim teknis ke sejumlah wilayah terdampak bencana pascagempa bumi tektonik yang mengguncang Flores. Langkah tanggap cepat ini mencakup pemantauan aktivitas kegempaan secara intensif, pendataan dampak kerusakan, serta penanganan pascabencana secara menyeluruh.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan data lapangan yang akurat sangat untuk menentukan langkah pemulihan wilayah terdampak. Sementara itu, tim BMKG menerjunkan personel ke lapangan untuk memverifikasi data makroseismik, mikroseismik, hingga memetakan dampak tsunami.
“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif,”
kata Faisal.
Tim menjalankan survei makroseismik untuk memverifikasi, mengidentifikasi, dan mendokumentasikan tingkat guncangan serta dampak kerusakan bangunan di wilayah terdampak. Sementara itu, tim menerapkan survei mikroseismik dan mengukur karakteristik tanah—termasuk menggunakan metode mikrotremor dan MASW—guna memperoleh informasi mengenai kondisi tanah serta struktur bawah permukaan yang memengaruhi respons wilayah terhadap guncangan gempa bumi.

























