Presiden Prabowo Subianto diminta tidak hanya hadir sebagai kepala pemerintahan ketika bencana melanda, tetapi juga tampil sebagai sosok yang mampu memberikan ketenangan dan penguatan psikologis bagi masyarakat yang menjadi korban.
Kehadiran langsung Presiden dinilai penting agar masyarakat merasakan negara tidak sekadar datang membawa bantuan, tetapi juga hadir untuk menguatkan mereka yang sedang menghadapi situasi sulit.
Ada satu istilah yang menarik dalam ketatanegaraan dan politik. Bahwa Presiden itu adalah the Comforter in Chief, pemimpin penghibur paling utama di saat bencana,”
kata Pakar Hukum Tatanegara, Feri Amsari kepada Owrite, Selasa, 8 September 2026.
Dalam situasi bencana, sambungnya, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada bantuan material seperti makanan dan kebutuhan pokok.
Korban juga membutuhkan sentuhan langsung dari pemimpin untuk membangun kembali rasa aman dan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi musibah tersebut seorang diri.
Yang dibutuhkan oleh rakyat tidak sekadar beras, yang dibutuhkan oleh rakyat tidak sekadar Indomie bungkus, yang dibutuhkan rakyat adalah penghibur hati yang lara,”
ucapnya.
Feri Amsari menilai, negara memang tidak selalu memiliki kemampuan untuk mencegah atau menghentikan bencana alam.
Namun ketika bencana terjadi, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat dapat memberikan dampak psikologis yang besar bagi para korban.
Karena itu, Presiden seharusnya tidak hanya memastikan bantuan pemerintah tersalurkan, tetapi juga turun langsung menemui masyarakat terdampak.
Presiden dapat berbicara dengan para korban, memberikan penghiburan kepada anak-anak, serta menunjukkan bahwa pemerintah hadir dan bekerja untuk memulihkan kondisi mereka,”
jelasnya.
Ia mencontohkan, sejumlah pemimpin di Amerika Serikat yang pernah tampil memberikan pidato dan penguatan kepada masyarakat ketika negaranya dilanda bencana.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam situasi bencana tidak hanya berbicara mengenai penanganan teknis, tetapi juga mengenai bagaimana seorang pemimpin memberikan ketenangan kepada rakyat.
Menurut Feri, peran tersebut sulit didelegasikan sepenuhnya kepada pejabat atau aparat di bawah Presiden. Sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, Presiden memiliki posisi simbolik dan politik yang sangat menentukan dalam membangun rasa aman masyarakat ketika menghadapi bencana.
Pak Presiden, mudah-mudahan Anda ikut mendengar dan memastikan Anda menjadi the Comforter in Chief di dalam penanggulangan bencana,”
tutupnya.























