Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

BGN: Sekolah Negeri Boleh Tolak MBG, tapi Harus Kompak

Kepala BGN Sudaryono mengatakan sekolah negeri yang menerima MBG juga harus memberikannya kepada seluruh siswa. Sebaliknya, jika menolak, penolakan juga berlaku secara keseluruhan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (kiri) bersama Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (tengah) dan Trenggono (kanan) menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (kiri) bersama Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (tengah) dan Trenggono (kanan) menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/nym.)

Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut sekolah negeri boleh menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, penolakan itu tidak bisa dilakukan sebagian siswa atau wali murid karena keputusan harus berlaku untuk seluruh sekolah.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan sekolah negeri yang menerima MBG juga harus memberikannya kepada seluruh siswa. Sebaliknya, jika menolak, penolakan juga berlaku secara keseluruhan.

Kalau sekolah negeri ini kalau menerima, menerima semua. Tapi kalau misalnya tidak, tidak semua,”

kata Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Sudaryono, mekanisme tersebut menjadi keputusan sementara setelah BGN membahasnya bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Iklan

Kemampuan Ekonomi

Karena itu, sekolah negeri tidak bisa membagi siswa berdasarkan kemampuan ekonomi untuk menentukan siapa yang menerima MBG dan siapa yang tidak.

Jadi tidak mungkin dalam satu sekolah, katakanlah 70 persen misalnya mampu, 30 persen enggak mampu,”

ujarnya.

Jika sekolah hendak menerima MBG, Sudaryono mengatakan keputusan tersebut harus disepakati bersama sekolah dan seluruh wali murid. Begitu pula jika sekolah memilih tidak menerima program tersebut.

Kalau memang iya, konsensusnya harus sekolah beserta seluruh wali muridnya sepakat iya semua atau sepakat tidak semua,”

katanya.

Keputusan Soal MBG

Dengan skema ini, keputusan soal MBG di sekolah negeri bukan menjadi pilihan yang dapat diterapkan berbeda-beda antar siswa. Sekolah dan seluruh wali murid harus memiliki kesepakatan yang sama.

Kalau sekolah negeri itu harus iya, iya semua. Kalau tidak, tidak semua,”

tegas Sudaryono.

Sementara untuk sekolah swasta, BGN menilai penerapan mekanismenya lebih mudah. Sudaryono mengatakan kondisi sekolah dapat menjadi salah satu dasar dalam menentukan penerima program.

Dan kami terkait sekolah swasta saya kira lebih mudah, karena memang sebagian besar swasta bisa dilihat dari kondisi sekolah dan lain sebagainya,”

ujarnya.

Sudaryono menegaskan prinsip MBG pada dasarnya adalah pemenuhan kebutuhan gizi. Program diberikan kepada penerima manfaat, dengan pengecualian bagi mereka yang tidak bersedia menerimanya.

Intinya semua diberikan, kecuali yang tidak mau,”

katanya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.