FIFA melakukan perubahan penting pada sistem operasional Video Assistant Referee (VAR) untuk sisa pertandingan Piala Dunia 2026.
Kebijakan baru tersebut diterapkan setelah muncul berbagai kritik terhadap kualitas kepemimpinan wasit sepanjang fase gugur turnamen.
Sebelumnya, seluruh proses pengambilan keputusan VAR dilakukan dari International Broadcast Centre (IBC) di Dallas, Texas, Amerika Serikat. Kini, mulai babak perempat final, FIFA mengubah mekanisme tersebut dengan menempatkan petugas VAR langsung di stadion.
Petugas VAR Langsung di Stadion
Dalam prosedur terbaru, FIFA menugaskan operator VAR utama beserta petugas VAR cadangan di setiap lokasi pertandingan. Langkah ini untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan teknis pada koneksi dengan pusat kendali VAR di Dallas.
Saat laga perempat final antara Prancis melawan Maroko, Leodan Gonzalez asal Uruguay ditempatkan di stadion sebagai petugas yang siap memberikan dukungan apabila terjadi kendala komunikasi dengan pusat VAR.
Sementara itu, Tatiana Guzman dari Nikaragua bertugas sebagai VAR cadangan di Boston Stadium, Foxborough.
Kedua petugas tersebut mendampingi perangkat pertandingan yang seluruhnya berasal dari Argentina, yakni wasit utama Facundo Tello bersama dua asisten wasit, Juan Pablo Belatti dan Gabriel Chade.
Kontroversi Jadi Pemicu
Perubahan sistem ini dilakukan setelah sejumlah pertandingan babak 16 besar memunculkan kontroversi besar, termasuk duel dramatis Argentina kontra Mesir.
Dalam pertandingan tersebut, Argentina berhasil bangkit dari ketertinggalan dua gol sebelum akhirnya menang 3-2. Namun, hasil laga memicu protes keras dari kubu Mesir yang mempertanyakan sejumlah keputusan wasit François Letexier dan tim VAR.
Pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan melontarkan kritik tajam usai pertandingan.
“Wasit itu tidak adil. Dia menyia-nyiakan perjuangan satu bangsa. Gelar juara ini memang diarahkan untuk Argentina,”
ujar Hassan kepada para wartawan setelah Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk menang 3-2.
“Ini jelas pertandingan yang sudah diatur hasilnya dan seluruh dunia menyaksikannya,”
Hassan menambahkan.
Kekecewaan juga disampaikan penyerang Mesir, Mostafa Ziko. Menurutnya, keputusan-keputusan wasit sepanjang pertandingan sangat merugikan timnya.
“Wasit itu tidak bagus, dia tidak adil. Ketidakadilannya sangat nyata. Dia terus menekan kami sejak awal pertandingan. Dia tidak ingin kami menang,”
kata dia.
Thomas Tuchel Kritik Performa Wasit
Bukan hanya Mesir, Timnas Inggris juga sempat melayangkan kritik terhadap kepemimpinan wasit usai kemenangan 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel menilai performa perangkat pertandingan jauh dari kata memuaskan, terutama setelah Jarell Quansah mendapat kartu merah.
“Wasit tidak cukup baik. Dia bisa saja mengusir pemain dari tim mana pun kapan saja. Kinerjanya benar-benar tidak memadai. Keputusannya tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan dalam pertandingan,”
ujar Tuchel.
“Sekarang kami menghadapi dua ofisial keempat yang langsung membentak jika Anda melangkah sedikit saja keluar dari area teknis pelatih. Hal itu sungguh tidak bisa diterima,”
tambah dia.
Integritas Wasit Dipertanyakan
Menanggapi berbagai tudingan tersebut, Kepala Bidang Perwasitan FIFA Pierluigi Collina membela seluruh perangkat pertandingan yang bertugas di Piala Dunia 2026.
Menurut mantan wasit asal Italia itu, kritik yang bersifat membangun merupakan bagian dari sepak bola. Namun, ia menolak keras tuduhan yang mempertanyakan integritas para wasit.
“Tentu saja, diskusi konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun, tuduhan yang tidak berdasar sama sekali tidak memiliki tempat dalam olahraga ini,”
kata Collina.
“Tidak ada seorang pun yang boleh mempertanyakan integritas wasit pertandingan Piala Dunia FIFA. Ketika hal itu terjadi, dampaknya bisa memicu reaksi yang berujung pada ancaman terhadap mereka maupun keluarga mereka. Tindakan semacam itu tidaklah benar.”
“Demikian pula, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa sistem perwasitan FIFA dapat dipengaruhi oleh pihak mana pun, bahkan oleh Presiden FIFA sekalipun,”
ujar dia.
























