Semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis melawan Spanyol di Dallas Stadium, Rabu dini hari, 15 Juli 2026, bukan hanya menjadi laga penting bagi kedua tim.
Setelah menjadi arena sembilan pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026, lapangan akan segera dibongkar untuk mengembalikan fungsi stadion sebagai markas Dallas Cowboys sekaligus lokasi berbagai acara hiburan.
Riset
Di balik tampilannya yang sederhana, lapangan di Dallas Stadium merupakan hasil pengembangan selama lima tahun oleh FIFA bersama sejumlah ilmuwan dan pakar perawatan rumput.
Proyek tersebut melibatkan University of Tennessee, Michigan State University, serta tim manajemen lapangan FIFA dengan tujuan menciptakan standar kualitas yang sama di seluruh stadion Piala Dunia 2026.
Manajer lapangan FIFA untuk Dallas Stadium, Ian Craig, mengatakan kualitas permukaan lapangan menjadi aspek penting agar para pemain dapat tampil maksimal.
“(Hal) yang kami lakukan di sini adalah menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia. Para pemain terbaik dunia bertanding di sini, sehingga kami ingin menyediakan permukaan lapangan terbaik untuk mereka,”
kata Craig, dikutip dari Reuters, hari ini.
Craig menjelaskan kualitas lapangan tidak hanya dinilai dari kondisi rumput yang terlihat hijau, tetapi juga bagaimana bola bergerak dan memantul selama pertandingan berlangsung.
“Bukan hanya soal memiliki rumput hijau. Kami harus memastikan lapangan ini dimainkan dengan karakteristik yang biasa dirasakan para pemain elite. Itulah mengapa dibutuhkan riset dan kerja keras selama bertahun-tahun,”
ujar dia.
Seluruh lapangan di 16 stadion Piala Dunia 2026 dirancang memiliki karakteristik permainan yang seragam agar para pemain tidak perlu beradaptasi dengan kondisi permukaan yang berbeda di setiap lokasi.
Tantangan sebagai Stadion Indoor
Dallas Stadium menjadi salah satu proyek paling kompleks karena merupakan stadion tertutup yang sehari-hari digunakan untuk pertandingan NFL.
Permukaan asli stadion menggunakan rumput sintetis sehingga FIFA harus membangun lapangan sepak bola baru di atasnya dengan struktur tanah layaknya stadion permanen. Craig menjelaskan bahwa permukaan lapangan sepak bola berada sekitar 1,4 meter di atas lapangan NFL.
“Kami berdiri sekitar empat setengah kaki di atas lapangan NFL agar lapangan ini bisa masuk ke dalam stadion. Namun kami memiliki profil tanah yang lengkap. Ini benar-benar lapangan sepak bola utuh,”
aku dia.
Tak hanya itu, FIFA juga menerapkan teknologi rumput hibrida yang umum digunakan di kompetisi elite Eropa.
“Ini bukan sekadar instalasi sementara. Struktur di bawahnya sama seperti lapangan sepak bola profesional pada umumnya. Kami juga menggunakan elemen hibrida, sehingga kualitasnya setara dengan yang digunakan di level tertinggi Eropa,”
kata Craig.
Rumput Khusus
Kondisi stadion yang tertutup membuat rumput lokal Texas dinilai kurang ideal karena minim paparan sinar matahari serta penggunaan pendingin ruangan secara terus-menerus.
Sebagai solusi, FIFA mendatangkan rumput khusus dari Colorado yang lebih tahan terhadap suhu rendah. Selain itu, lampu pertumbuhan khusus dipasang menggantung di atap stadion.
Lampu tersebut dipindahkan ke atas lapangan setiap hari saat tidak ada pertandingan untuk memastikan rumput tetap memperoleh pencahayaan yang cukup.
Selama lebih dari empat pekan, lapangan berteknologi tinggi tersebut sukses digunakan dalam sembilan pertandingan Piala Dunia tanpa kendala berarti.
Namun, setelah duel Prancis melawan Spanyol berakhir, lapangan akan langsung dibongkar agar Dallas Stadium dapat kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai venue konser dan pertandingan NFL.
“Ini adalah stadion yang sangat sibuk. Banyak sekali acara yang digelar di sini. Lapangan ini sudah menjalankan tugasnya, dan setelah itu stadion akan kembali digunakan untuk konser serta pertandingan NFL,”
tutur Craig.























