Dukungan terhadap Gianni Infantino jelang pemilihan Presiden FIFA 2027 dilaporkan mulai menyusut. Polemik mengenai rencana penjualan saham Piala Dunia dan sejumlah turnamen FIFA jadi salah satu faktor yang memicu kritik dari internal organisasi.
Situasi tersebut semakin memanas setelah Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour berpisah dengan badan sepak bola dunia. Kepergian Lamour disebut berkaitan dengan kritik yang ia sampaikan terhadap sejumlah rencana Infantino dan jajaran FIFA, termasuk terkait penjualan saham Piala Dunia.
Puncaknya adalah pemecatan tak terduga terhadap Kevin Lamour,”
tulis pernyataan Wakil Presiden FIFA Sandor Csanyi kepada Infantino, seperti dilansir dari Le Monde, Kamis 20 Agustus 2026.
Csanyi bahkan secara terbuka menyampaikan kritik kepada Infantino. Ia menilai kepergian Lamour menjadi salah satu tanda bahwa kondisi internal FIFA sedang tidak baik-baik saja.
Menurut Csanyi, Lamour merupakan figur yang selama ini dapat dipercaya dan menjalankan tugasnya dengan baik. Karena itu, keputusan terhadap Lamour dinilai menimbulkan pertanyaan serius mengenai tata kelola organisasi.
Kevin sudah menjalankan tugas dengan profesionalisme tinggi dan standar etik sebagai pejabat kompeten, serta berkontribusi signifikan terhadap operasionan transparan dalam organisasi,”
jelas Csanyi.
Csanyi juga menyoroti alasan di balik keputusan tersebut yang disebut berkaitan dengan kritik atau perbedaan pandangan terhadap sejumlah inisiatif FIFA.
Sehingga mengarah pada konsekuensi serius pada penghakiman profesional, standar etik, dan kepemimpinan,”
ujar Csanyi.
Infantino Banjir Kritik
Kritik terhadap kepemimpinan Infantino tak hanya datang dari Csanyi. Anggota Dewan FIFA sekaligus legenda sepak bola Montenegro Dejan Savicevic turut mempertanyakan arah kebijakan organisasi.
Savicevic menilai rencana pengembangan program FIFA justru memunculkan kekhawatiran terkait komunikasi dan transparansi, baik kepada asosiasi anggota maupun struktur internal FIFA.
Dia menyindir rencana pengembangan program FIFA benar-benar mengkhawatirkan.
Dan, menunjukan parahnya pola komunikasi dan transparansi tak hanya untuk asosiasi anggota, tapi juga pihak internal, Dewan FIFA, dan struktur yang seharusnya jadi fondasi FIFA,”
tulis Savicevic.
Kritik tersebut membuat posisi Infantino dalam menghadapi pemilihan Presiden FIFA 2027 menjadi sorotan. Terlebih, isu transparansi dan tata kelola menjadi bagian penting dalam dinamika internal federasi sepak bola dunia.
Meski sejumlah tokoh FIFA mulai menyuarakan kritik, tidak semua pihak menarik dukungannya terhadap Infantino.
Indonesia melalui PSSI masih berada di belakang Infantino. Ketua Umum PSSI Erick Thohir sebelumnya menegaskan sikap Indonesia untuk tetap mendukung Infantino dalam kontestasi pemilihan Presiden FIFA.
Dengan demikian, dukungan terhadap Infantino belum sepenuhnya runtuh. Namun, munculnya kritik dari sejumlah anggota Dewan FIFA menunjukkan bahwa persaingan menuju pemilihan 2027 berpotensi berlangsung semakin ketat.
Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada 17 Maret 2027.
Infantino jadi salah satu kandidat kuat dalam pemilihan tersebut. Selain dirinya, sejumlah nama lain juga disebut berpotensi ikut bersaing, di antaranya Victor Montagliani, Aleksander Ceferin, dan Lise Klaveness.
Dengan waktu menuju kongres yang masih cukup panjang, dinamika dukungan terhadap para kandidat masih sangat mungkin berubah. Polemik mengenai transparansi, tata kelola, serta rencana komersialisasi turnamen FIFA pun dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah pemilihan mendatang.

























