Wacana duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode dinilai tak mudah diwujudkan. Wacana itu dinilai berat karena masih minim dukungan politik.
Demikian Analisa dari pengamat politik sekaligus peneliti senior Citra Institute Efriza. Selain masih minim dukungan politik, wacana itu juga berat karena beban elektoral yang melekat pada putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo itu.
Efriza mengatakan, meski Jokowi belakangan mulai aktif melakukan safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI), langkah itu tidak otomatis membuat jalan bagi duet Prabowo-Gibran pada 2029 menjadi mulus.
Kecenderungan terbesar koalisi partai politik itu enggan mendukung dua periode dengan Gibran. Artinya secara dukungan, mereka lebih suka atau lebih mau Pak Prabowo, tapi wakilnya bukan Gibran,”
kata Efriza, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut dia, sikap partai-partai pendukung pemerintah juga menunjukkan sinyal serupa. Sejumlah partai koalisi dinilai belum pernah secara terbuka mendorong skenario Prabowo-Gibran dua periode.
Golkar juga tidak membahas dua periode, PAN juga enggak, PKB juga enggak. Artinya peluang Gibran ini sangat minim,”
ujar Efriza.
Lebih lanjut, dia menilai jika Gibran kembali sebagai pendamping berpotensi menjadi ‘beban’ bagi Prabowo jika ingin mempertahankan kekuasaan pada 2029. Menurutnya, lebih baik Prabowo kembali maju tanpa Gibran.
Dengan beban yang sama dan masalah yang sama, nanti orang-orang tetap tidak akan suka dengan Pak Prabowo. Walaupun sudah didukung, malah peluang menang di periode kedua bisa kecil kalau bersama dengan Gibran,”
jelas Efriza.
Menurut dia, salah satu faktor yang masih membayangi Gibran adalah kontroversi pencalonannya di Pilpres 2024. Ia menyinggung putusan Mahkamah Kontitusi (MK) masih terus dipersoalkan.
Rekam jejak dia menjadi cawapres dengan putusan MK yang dipelesetkan jadi ‘Mahkamah Kakak’ itu merusak reputasi Gibran dan membawa beban noda baginya,” .
katanya.
Maka itu, Efriza menilai safari politik Jokowi bersama PSI lebih tepat dibaca sebagai upaya mengamankan masa depan politik Gibran. Manuver itu jika nanti Gibran tak lagi dipilih sebagai pasangan Prabowo.
Jadi, dia sedang mengatrol dua anaknya sekaligus yakni Kaesang sebagai Ketua Umum PSI untuk membesarkan PSI, dan Gibran untuk menaikkan elektabilitasnya,”
ujarnya.
Lebih lanjut, Efriza menambahkan konstelasi politik saat ini juga sudah berubah. Jika di Pilpres 2024, dukungan Jokowi jadi salah satu faktor penting, kini kekuatan politik berada di tangan Prabowo sebagai presiden.
Karena sekarang bolanya bukan di Jokowi lagi, karena Jokowi bukan presiden. Tapi kekuatannya ada di Pak Prabowo,”
kata Efriza.
























