Direktur Executive Partner Politik Indonesia Abubakar Solissa, menilai pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih cukup kuat meski tidak lagi berada dalam barisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Menurutnya, Jokowi tetap memiliki modal elektoral yang besar untuk menggerakkan dukungan politik menjelang Pemilu 2029, meski kekuatan figur saja tidak cukup tanpa didukung organisasi partai yang solid.
Solissa mengatakan, intensitas safari politik yang belakangan dilakukan Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menunjukkan bahwa mantan kepala negara itu masih memiliki daya tarik di sejumlah daerah yang selama ini menjadi basis kemenangan pada Pilpres 2014 dan 2019.
Jokowi masih memiliki pengaruh di kantong-kantong pemilih yang merupakan basis kemenangannya pada Pilpres 2014 dan 2019,”
kata Abubakar Solissa saat dihubungi Owrite, Selasa, 7 Juli 2026.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tingginya popularitas seorang tokoh politik tidak otomatis berubah menjadi perolehan suara bagi partai yang didukung.
Perlu dibedakan antara popularitas dan transferabilitas suara. Popularitas tidak selalu otomatis berpindah menjadi suara bagi partai yang didukung,”
ucapnya.
Dikatakan Solissa, efek elektoral Jokowi diperkirakan masih akan terasa, terutama di kalangan pemilih muda dan wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis dukungannya. Namun besarnya pengaruh tersebut akan sangat ditentukan oleh dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Penyandang magister Ilmu Komunikasi di dari Universitas Paramadina itu menyebut terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan efektivitas Jokowi sebagai pendulang suara, yakni intensitas safari politik, kualitas kader dan struktur partai di daerah, serta konfigurasi politik nasional menjelang pemilu.
Efek Jokowi kemungkinan masih cukup signifikan, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi basis dukungannya dan di kalangan pemilih muda,”
ungkapnya.
Abubakar menilai safari politik yang lebih intens akan menjadi salah satu kunci apabila Jokowi ingin memperkuat daya pengaruhnya di tengah persaingan politik yang semakin kompetitif.
Namun, ia menegaskan bahwa figur sebesar apa pun tetap membutuhkan mesin politik yang mampu mengonversi popularitas menjadi suara di bilik pemungutan.
Artinya, figur Jokowi bisa menjadi vote getter, tetapi kemenangan elektoral tetap membutuhkan organisasi partai yang kuat,”
jelasnya.






















