Menurut Sugiat, pemenuhan gizi anak sekolah merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Dia berpendapat, upaya menciptakan generasi yang cerdas dan mampu bersaing secara global harus dimulai dengan memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sejak masa pertumbuhan.
Pemenuhan gizi anak sekolah adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM), tidak mungkin kita mencetak generasi cerdas dan berdaya saing global jika anak-anak bangsa masih mengalami masalah gizi dan kesehatan di usia pertumbuhan,”
jelas Sugiat.
Sugiat juga menolak penilaian terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto yang terlalu bertumpu pada hasil survei dan rapor yang disusun Celios.
Dia menilai penilaian tersebut tidak cukup menggambarkan dampak program pemerintah yang dirasakan langsung masyarakat.
Ia bilang survei Celios yang dirancang secara artifisial oleh kelompok tertentu tak bisa menghapus fakta dari kerja nyata yang dirasakan masyarakat di akar rumput.
Bagaimana mungkin kinerja dua tahun pemerintah diadili oleh Kabinet Bayangan, sementara program-program kerakyatan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti langsung dirasakan manfaatnya oleh anak-anak di sekolah,”
tutur Sugiat.
Namun, Sugiat tidak memerinci data yang dapat digunakan untuk mengukur manfaat MBG, termasuk dampaknya terhadap pemenuhan gizi siswa maupun kondisi kesehatan anak setelah menerima program tersebut.
Sugiat menilai kritik terhadap MBG mengabaikan kebutuhan dasar anak sekolah. Menurut dia, kebijakan pemenuhan gizi tidak semestinya dinilai hanya dari sisi anggaran atau perdebatan politik, tetapi juga dari tujuan program dalam mendukung kualitas sumber daya manusia.
Sebelumnya, hasil survei yang dirilis oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan pada Oktober 2026 menyatakan bahwa 76 persen responden masyarakat umum setuju jika program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan.