Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Sefruit

Bercanda atau Coping Mechanism? Fenomena “Delulu Is the Solulu”

Kalimat “delulu is the solulu” jadi tren di kalangan Gen Z karena dianggap relate dengan tekanan hidup, overthinking, dan quarter life crisis. Di balik meme lucu ini, ternyata banyak orang memakai delusi kecil sebagai coping mechanism agar tetap punya harapan dan semangat menjalani realita.

Bercanda atau Coping Mechanism? Fenomena “Delulu Is the Solulu”
https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/05/photo_2026-05-19_17-15-50.webp

Kalau kamu sering main TikTok atau Twitter, pasti pernah dengar kalimat “delulu is the solulu.”

Biasanya dipakai buat bercanda saat seseorang terlalu berharap, terlalu percaya diri, atau terlalu yakin sama sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Contohnya, baru dibales sekali langsung mikir jodoh, habis interview langsung ngebayangin posisi meja kerja, atau manifesting hidup mewah cuma lewat Pinterest board dan playlist malam.

Iklan

Dan anehnya, banyak orang relate.

Awalnya memang terdengar lucu. Tapi makin ke sini, banyak orang mulai sadar kalau fenomena “delulu is the solulu” ternyata lebih dari sekadar meme internet.

Karena di balik candaan itu, banyak orang sebenarnya lagi capek sama realita.

Kenapa “Delulu Is the Solulu” Jadi Relate Banget?

Hidup sekarang tuh terlalu capek banget. Mulai dari tekanan kerja, quarter life crisis, comparison culture, overthinking, sampai ketidakpastian masa depan.

Akhirnya banyak orang mencari cara kecil buat tetap merasa punya harapan. Dan salah satu bentuknya ya lewat “delulu” tadi.

Ngebayangin hidup akan membaik. Percaya kalau suatu hari semuanya bakal berhasil.

Atau sesimpel membiarkan diri sendiri punya fantasi kecil supaya tetap semangat jalanin hidup.

Karena kadang, berharap sedikit terasa lebih ringan dibanding terlalu realistis terus.

Jadi, Delulu Itu Selalu Buruk?

Nggak juga.

Dalam batas tertentu, “delulu” sebenarnya bisa jadi bentuk self encouragement. Semacam,

“gue pasti bisa.”, “hidup gue bakal berubah.” atau “suatu hari gue akan sampai di titik yang gue mau.”

Dan jujur aja, banyak orang bertahan justru karena masih punya imajinasi tentang hidup yang lebih baik. Masalahnya muncul kalau “delulu” berubah jadi cara menghindari kenyataan sepenuhnya.

Bedanya Delulu Sehat dan Delulu yang Mulai Nggak Sehat

Delulu yang sehat biasanya masih dibarengi usaha dan kesadaran realita.

Kamu boleh manifesting kerja impian, tapi tetap kirim CV. Boleh percaya diri, tapi tetap belajar.

Boleh berharap seseorang suka balik, tapi tetap sadar kalau nggak semua hal bisa dipaksa.

Sedangkan saat “delulu” mulai dipakai buat lari dari kenyataan, itu yang bisa melelahkan mental sendiri.

Misalnya, menolak fakta yang jelas, terlalu hidup di skenario khayalan, atau terus memaksakan harapan yang sebenarnya sudah nggak sehat.

Karena pada akhirnya, harapan tetap butuh pijakan.

Kenapa Banyak Gen Z Pakai Humor Kayak Gini?

Karena humor sekarang sering jadi coping mechanism.

Banyak orang memakai candaan buat membungkus rasa takut, stres, atau rasa capek yang sebenarnya serius.

Makanya istilah seperti:

“delulu is the solulu,”

“living in my own world,”

atau “manifesting biar nggak nangis”

terasa lucu sekaligus sedih kalau dipikir-pikir. Karena di balik itu semua, banyak orang sebenarnya cuma lagi berusaha bertahan.

Kadang Kita Memang Butuh Sedikit Delusi Buat Tetap Jalan

Mungkin itu juga alasan kenapa tren ini cepat viral.

Karena di dunia yang keras dan bikin overthinking terus, sedikit harapan kadang terasa menyelamatkan.

Dan mungkin nggak apa-apa sesekali jadi “delulu”, selama kamu tetap bisa kembali berpijak di dunia nyata.

Karena percaya hidup bisa membaik itu bagus. Tapi jangan sampai lupa benar-benar hidup juga.

Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten Gen Z culture, self-awareness, dan emotional talks lainnya yang relate banget sama kehidupan sehari-hari yaaa

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Writer

    a little chaotic, a little curious, and always in my own world. here for the random moments, unexpected stories, new interests, and everything in between.

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.