“Itu si Raihan kenapa telinganya?”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana buat sebagian orang. Tapi buat Raihan, pertanyaan dan tatapan tentang fisiknya jadi sesuatu yang terus membekas sejak kecil.
Selama bertahun-tahun, ia hidup sambil menutupi dirinya sendiri. Mulai dari memakai jaket berkupluk saat SD sampai selalu menggunakan headphone selama SMA hanya supaya orang lain nggak melihat telinganya.
Di balik semua itu, ada satu kondisi yang akhirnya diketahui banyak orang lewat ceritanya yaitu mikrotia.
Apa Itu Mikrotia?
Mikrotia adalah kelainan bawaan lahir ketika telinga tidak berkembang sempurna. Kondisi ini bisa membuat bentuk telinga terlihat lebih kecil atau berbeda dari umumnya, bahkan pada beberapa kasus memengaruhi pendengaran.
Meski termasuk kondisi medis, banyak penyandang mikrotia justru harus menghadapi tantangan lain yang lebih berat: komentar orang, tatapan asing, dan bullying soal fisik.
Dan itu yang juga dialami Raihan sejak kecil.
Dari Kecil Sudah Merasa “Berbeda”
Awalnya Raihan kecil belum terlalu memikirkan kondisi dirinya. Saat TK, ia masih bermain seperti anak-anak lain tanpa merasa berbeda.
Tapi semakin besar, ia mulai sadar kalau orang-orang melihatnya dengan cara yang berbeda.
Ada yang menatap terlalu lama. Ada yang menyentuh telinganya tanpa izin. Ada yang menjadikannya bahan bercandaan.
Salah satu hal yang paling membekas adalah saat dirinya dipanggil “kuping caplang.”
Hal-hal seperti itu akhirnya membuat Raihan mulai menutup diri.
Sampai Takut Menunjukkan Diri Sendiri
Saat SD, Raihan mulai memakai jaket berkupluk untuk menutupi telinganya. Masuk SMA, ia menggantinya dengan headphone karena jaket tidak diperbolehkan.
Bahkan bukan cuma di sekolah, ia juga memakai headphone hampir ke mana-mana karena takut dilihat orang lain.
Yang paling menyakitkan buatnya bukan cuma ejekan, tapi rasa takut bahwa orang hanya akan melihat “kekurangannya.”
Ada satu momen yang sangat membekas saat SMA, ketika ia mendengar orang lain berbisik
“Oh itu kegesek tanah sampai mampus.”
Kalimat itu membuatnya langsung menangis dan kembali membenci dirinya sendiri.
Proses Belajar Menerima Diri
Di tengah rasa takut dan insecure yang terus menghantuinya, Raihan akhirnya mulai mencoba membuka dirinya lewat dunia teater.
Awalnya ia berpikir panggung hanya untuk orang-orang yang “sempurna.” Tapi ternyata, di sana ia justru diterima apa adanya.
Bahkan ia beberapa kali dipercaya menjadi karakter utama.
Dari situlah perlahan ia sadar kalau orang yang tepat akan melihat dirinya lebih dari sekadar fisik.
Raihan bahkan menulis sebuah naskah teater tentang ketidaksempurnaan, terinspirasi dari The Greatest Showman. Di atas panggung, untuk pertama kalinya, ia menunjukkan dirinya tanpa menutupi telinganya lagi di depan ribuan penonton.
Dan respons yang ia terima justru penuh dukungan.
Banyak Orang Relate dengan Cerita Raihan
Cerita Raihan bukan cuma tentang mikrotia.
Banyak orang relate karena pernah merasa takut dinilai dari fisik, takut menunjukkan diri sendiri, atau merasa harus menutupi bagian diri yang dianggap “berbeda.”
Padahal kenyataannya, semua orang punya luka dan rasa insecure masing-masing.
Dan lewat ceritanya, Raihan mengingatkan bahwa penerimaan diri memang bukan proses yang instan, tapi tetap mungkin untuk dijalani.
Kesempurnaan Itu Bukan dari Fisik
Salah satu hal paling menyentuh dari cerita Raihan adalah ketika ia mengatakan bahwa kesempurnaan bukan dilihat dari fisik, tapi dari hati dan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Sekarang, ia memang mengaku belum sepenuhnya sembuh dari rasa takutnya. Tapi setidaknya, ia sudah tidak lagi menyembunyikan dirinya sendiri.
Dan mungkin itu bentuk keberanian yang paling besar.
Nonton cerita selengkapnya di sini:
