Dulu, sibuk terus dianggap keren. Bangun pagi. Kerja nonstop. Produktif setiap saat. Punya side hustle. Tidur dikit. Repeat.
Semakin capek, semakin dianggap ambisius. Makanya nggak heran kalau beberapa tahun terakhir banyak orang terjebak dalam hustle culture atau gaya hidup yang mendorong seseorang buat terus bekerja dan produktif tanpa henti demi sukses.
Tapi sekarang, banyak Gen Z mulai mempertanyakan semuaya kalau emang hidup sekeras itu ya?
Apa Itu Hustle Culture?
Hustle culture adalah pola pikir yang menganggap nilai diri seseorang ditentukan dari seberapa produktif mereka.
Kalau sibuk dianggap keren. Kalau istirahat dianggap malas. Kalau belum sukses muda dianggap gagal.
Akibatnya, banyak orang jadi merasa harus terus bekerja bahkan saat tubuh dan mentalnya sebenarnya sudah capek.
Dan media sosial sering memperparah itu.
Sedikit-sedikit muncul konten umur 23 beli rumah, kerja 3 job sekaligus, bangun jam 5 pagi, sampai glorifikasi “grinding” tiap hari. Lama-lama orang jadi merasa tertinggal kalau hidupnya nggak seproduktif itu.
Gen Z Mulai Capek Hidup dalam Mode “Survival”
Ini yang bikin banyak Gen Z mulai menolak hustle culture.
Bukan karena malas. Tapi karena terlalu lama hidup dalam tekanan buat terus kuat dan produktif.
Realitanya, banyak anak muda sekarang hidup di tengah biaya hidup yang naik, tekanan kerja, quarter life crisis, dan ketidakpastian masa depan. Makanya banyak orang mulai sadar kalau bekerja terus tanpa jeda ternyata nggak otomatis bikin bahagia.
Muncul Tren “Soft Life”
Dari situ muncul istilah soft life yang belakangan viral di TikTok dan media sosial.
Soft life adalah keinginan untuk hidup lebih tenang, lebih sehat secara mental, dan nggak terus-terusan memaksakan diri demi validasi produktivitas.
Bukan berarti malas atau nggak punya ambisi. Tapi lebih ke punya work-life balance, nggak memaksakan diri sampai burnout, dan mulai memilih hidup yang terasa lebih manusiawi.
Makanya sekarang banyak Gen Z lebih memilih mending pulang tepat waktu, tidur cukup, menjaga kesehatan mental, atau kerja seperlunya tanpa harus menjadikan pekerjaan sebagai seluruh identitas hidup.
Produktif Terus Nggak Selalu Sehat
Masalah hustle culture adalah banyak orang akhirnya merasa bersalah saat istirahat. Padahal manusia memang butuh jeda. Dan ironisnya, semakin dipaksa terus produktif, banyak orang justru makin kehilangan motivasi, gampang burnout, dan merasa kosong.
Karena hidup akhirnya cuma terasa seperti kerja, capek, tidur, ulang lagi.
Menolak Hustle Culture Bukan Berarti Nggak Punya Mimpi
Ini yang sering disalahpahami. Banyak Gen Z tetap punya ambisi dan ingin sukses. Mereka cuma mulai sadar kalau sukses nggak harus selalu dibayar dengan kesehatan mental yang hancur.
Karena buat sebagian orang sekarang, hidup tenang juga termasuk pencapaian. Dan mungkin itu alasan kenapa istilah seperti soft life terasa sangat relate. Karena di tengah dunia yang terus nyuruh kita lari, banyak orang sebenarnya cuma pengen hidup tanpa merasa kelelahan setiap hari.
Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten Gen Z culture, self-awareness, dan emotional talks lainnya yang relate banget sama kehidupan sehari-hari
