Banyak orang terlihat produktif dari luar, to-do list penuh, balas chat cepat, kerja terus, aktif organisasi, nilai bagus, selalu keliatan “rapi”, tapi di balik itu semua kepalanya nggak pernah benar-benar tenang.
Dan belakangan, makin banyak orang mulai sadar kalau produktif terus-menerus belum tentu berarti seseorang baik-baik aja. Kadang justru itu cara mereka bertahan.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah high-functioning anxiety atau kondisi ketika seseorang terlihat mampu menjalani hidup dengan “normal” bahkan sangat produktif, tapi sebenarnya terus hidup dalam kecemasan yang tinggi.
Karena itu, banyak orang sering bingung membedakan tentang ini perfeksionisme biasa atau sebenarnya anxiety?
Dikutip dari buku The Perfectionism Workbook karya Taylor Newendorp (2017), perfeksionisme biasanya membuat seseorang terus mengejar standar tinggi karena ingin hasil yang sempurna atau takut gagal. Sementara pada high-functioning anxiety, produktivitas sering muncul bukan karena ambisi semata tapi karena rasa takut yang terus aktif di kepala.
Takut mengecewakan orang. Takut dianggap gagal. Takut tertinggal. Takut tidak cukup baik. Makanya banyak orang dengan high-functioning anxiety terlihat “rapih” di luar, tapi sebenarnya capek secara mental.
Mereka sulit santai. Sulit menikmati hasil kerja. Dan selalu merasa ada hal yang harus dikerjakan.
Dilansir dari artikel ilmiah High-Functioning Anxiety: A Review of the Literature and Clinical Implications oleh Jessica L. Schleider (2021), orang dengan high-functioning anxiety sering tetap mampu berfungsi secara sosial dan profesional, sehingga kecemasannya jarang terlihat atau bahkan dianggap “positif” oleh lingkungan.
Karena dari luar mereka terlihat disiplin, ambisius, produktif, dan bertanggung jawab. Padahal di dalamnya ada tekanan mental yang terus berjalan. Ini juga yang bikin banyak orang nggak sadar mereka sebenarnya sedang cemas
Karena anxiety selama ini sering dibayangkan sebagai orang yang nggak bisa kerja, nggak bisa keluar rumah, atau selalu terlihat panik. Padahal kenyataannya, banyak anxiety yang tersembunyi di balik kesibukan.
Dikutip dari buku When Perfect Isn’t Good Enough karya Martin M. Antony dan Richard P. Swinson (2009), perfeksionisme yang terlalu tinggi dapat berkaitan erat dengan gangguan kecemasan karena seseorang mulai menggantungkan harga dirinya pada performa dan pencapaian.
Makanya sedikit kesalahan saja bisa terasa sangat besar. Dan ironisnya, banyak orang justru dipuji karena kondisi ini.
“Wah kamu rajin banget.”
“Kamu produktif terus.”
“Kamu hebat ya bisa ngatur semuanya.”
Padahal mereka sendiri mungkin sudah kelelahan. Karena sering kali produktivitas itu bukan datang dari rasa aman tapi dari rasa takut berhenti. Takut kalau diam nanti merasa gagal. Takut kalau istirahat nanti tertinggal. Takut kalau nggak sibuk nanti harus menghadapi isi kepala sendiri.
Dilansir dari jurnal Personality and Individual Differences oleh Gordon L. Flett dan Paul L. Hewitt (2002), tentang socially prescribed perfectionism yaitu tekanan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain dapat meningkatkan stres kronis, burnout, dan kecemasan.
Dan mungkin itu kenapa sekarang banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan budaya “harus produktif terus.” Karena hidup yang sehat seharusnya bukan cuma soal performa. Tapi juga soal apakah kita benar-benar merasa tenang saat menjalaninya.
Kadang orang yang paling terlihat kuat, justru orang yang paling jarang merasa bisa berhenti.
Jangan lupa untukk follow instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya yaa
