Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 29 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • iran
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Sefruit / Ternyata Nggak Semua Orang Produktif Itu Baik-Baik Aja
Sefruit

Ternyata Nggak Semua Orang Produktif Itu Baik-Baik Aja

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
Last updated: Mei 28, 2026 6:26 pm
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
Share
SHARE

Banyak orang terlihat produktif dari luar, to-do list penuh, balas chat cepat, kerja terus, aktif organisasi, nilai bagus, selalu keliatan “rapi”, tapi di balik itu semua kepalanya nggak pernah benar-benar tenang.

Dan belakangan, makin banyak orang mulai sadar kalau produktif terus-menerus belum tentu berarti seseorang baik-baik aja. Kadang justru itu cara mereka bertahan.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah high-functioning anxiety atau kondisi ketika seseorang terlihat mampu menjalani hidup dengan “normal” bahkan sangat produktif, tapi sebenarnya terus hidup dalam kecemasan yang tinggi.

Karena itu, banyak orang sering bingung membedakan tentang ini perfeksionisme biasa atau sebenarnya anxiety?

Dikutip dari buku The Perfectionism Workbook karya Taylor Newendorp (2017), perfeksionisme biasanya membuat seseorang terus mengejar standar tinggi karena ingin hasil yang sempurna atau takut gagal. Sementara pada high-functioning anxiety, produktivitas sering muncul bukan karena ambisi semata tapi karena rasa takut yang terus aktif di kepala.

Takut mengecewakan orang. Takut dianggap gagal. Takut tertinggal. Takut tidak cukup baik. Makanya banyak orang dengan high-functioning anxiety terlihat “rapih” di luar, tapi sebenarnya capek secara mental.

Mereka sulit santai. Sulit menikmati hasil kerja. Dan selalu merasa ada hal yang harus dikerjakan.

Dilansir dari artikel ilmiah High-Functioning Anxiety: A Review of the Literature and Clinical Implications oleh Jessica L. Schleider (2021), orang dengan high-functioning anxiety sering tetap mampu berfungsi secara sosial dan profesional, sehingga kecemasannya jarang terlihat atau bahkan dianggap “positif” oleh lingkungan.

Karena dari luar mereka terlihat disiplin, ambisius, produktif, dan bertanggung jawab. Padahal di dalamnya ada tekanan mental yang terus berjalan. Ini juga yang bikin banyak orang nggak sadar mereka sebenarnya sedang cemas

Karena anxiety selama ini sering dibayangkan sebagai orang yang nggak bisa kerja, nggak bisa keluar rumah, atau selalu terlihat panik. Padahal kenyataannya, banyak anxiety yang tersembunyi di balik kesibukan.

Dikutip dari buku When Perfect Isn’t Good Enough karya Martin M. Antony dan Richard P. Swinson (2009), perfeksionisme yang terlalu tinggi dapat berkaitan erat dengan gangguan kecemasan karena seseorang mulai menggantungkan harga dirinya pada performa dan pencapaian.

Makanya sedikit kesalahan saja bisa terasa sangat besar. Dan ironisnya, banyak orang justru dipuji karena kondisi ini.

“Wah kamu rajin banget.”

“Kamu produktif terus.”

“Kamu hebat ya bisa ngatur semuanya.”

Padahal mereka sendiri mungkin sudah kelelahan. Karena sering kali produktivitas itu bukan datang dari rasa aman tapi dari rasa takut berhenti. Takut kalau diam nanti merasa gagal. Takut kalau istirahat nanti tertinggal. Takut kalau nggak sibuk nanti harus menghadapi isi kepala sendiri.

Dilansir dari jurnal Personality and Individual Differences oleh Gordon L. Flett dan Paul L. Hewitt (2002), tentang socially prescribed perfectionism yaitu tekanan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain dapat meningkatkan stres kronis, burnout, dan kecemasan.

Dan mungkin itu kenapa sekarang banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan budaya “harus produktif terus.” Karena hidup yang sehat seharusnya bukan cuma soal performa. Tapi juga soal apakah kita benar-benar merasa tenang saat menjalaninya.

Kadang orang yang paling terlihat kuat, justru orang yang paling jarang merasa bisa berhenti.

Jangan lupa untukk follow instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya yaa

 

Tag:cemas
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Rupiah Babak Belur ke Level Rp17.856 per Dolar AS, Gegara AS Serang Iran
By Anisa Aulia
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS. (Sumber: Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso/kye)
1
Rupiah Anjlok, Harga Barang Naik, Benarkah RI Masih Jauh dari Krisis 1998?
By Rahmat Tunny
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Sumber: Antara Foto/Asprilla Dwi Adha/hma)
2
Polsek Tamansari Gandeng Siber Polda Metro Selidiki Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari
By Rahmat
Ilustrasi anak sebagai korban.
3
APBN Dipakai untuk Kurban, Prabowo Dinilai Langgar Prinsip Ibadah
By Rahmat Tunny
Sapi Kurban
4
MUI: Pembelian 1.098 Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN Sah Secara Syariat
By Rahmat
Petugas kesehatan hewan memeriksa kesehatan sapi bantuan Presiden di Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/5/2026).
5

BERITA LAINNYA

Sefruit

Nggak Tahu Mau Nulis Apa Pas Journaling? Coba Mulai dari Ini

Journaling nggak harus estetik, puitis, atau penuh kata-kata deep. Kadang cukup jadi…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
12 jam lalu
Sefruit

Tanda Kamu Terlalu Sering Nyalahin Diri Sendiri, Ternyata Ini Penyebabnya

Pernah merasa selalu menyalahkan diri sendiri bahkan saat bukan salah kamu? Kenali…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
2 hari lalu
Sefruit

Tipe-Tipe Orang Pas Idul Adha, Kamu yang Mana?

Idul Adha selalu punya cerita unik dan tipe-tipe orang yang muncul setahun…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
2 hari lalu
Sefruit

Self-Love Bombing: Saat Kamu Terlalu Cepat Jatuh Cinta Sama Potential Seseorang

Pernah jatuh cinta sama “potential” seseorang? Kenali fenomena self-love bombing, saat kita…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up