Pernah gak sih kamu yang niatnya cuma buka TikTok 5 menit sebelum tidur, terus pindah ke Instagram, setelah itu lanjut balas chat, trus nonton satu video YouTube. Eh, tiba-tiba lihat jam udah jam 2 pagi.
Padahal besok harus bangun pagi. Padahal badan udah capek. Padahal dari tadi udah ngantuk.
Kalau kamu sering mengalami hal ini, ternyata ada istilah yang menjelaskan fenomena tersebut yaitu revenge bedtime procrastination.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan menunda tidur demi mendapatkan waktu untuk diri sendiri, meskipun tahu bahwa hal itu akan membuat tubuh lebih lelah keesokan harinya.
Fenomena ini pertama kali banyak dibahas setelah istilah tersebut populer di media sosial dan kemudian menjadi perhatian para peneliti tidur serta psikolog.
Menurut penelitian Bedtime Procrastination: Introducing a New Area of Procrastination oleh Floor M. Kroese, Joel H. M. M. De Ridder, Catharina Evers, dan Denise T. D. De Wit (2014), banyak orang menunda waktu tidur bukan karena tidak memiliki kesempatan untuk tidur, melainkan karena memilih melakukan aktivitas lain terlebih dahulu.
Sederhananya, tubuh ingin tidur, tapi otak berkata “bentar lagi deh.”
Biasanya ini sering terjadi pada orang yang merasa harinya terlalu penuh. Contohya seharian kerja, kuliah, organisasi, meeting, tugas, macet, attau sibuk mengurus banyak hal.
Akhirnya malam menjadi satu-satunya waktu yang terasa benar-benar milik diri sendiri. Karena itulah banyak orang rela mengorbankan jam tidur demi menikmati sedikit kebebasan. Seperti scroll TikTok, nonton drama, main game, atau sekadar rebahan sambil melihat timeline.
Bukan karena mereka tidak tahu pentingnya tidur, tetapi karena mereka merasa belum sempat menikmati hidupnya hari itu.
Dilansir dari buku Why We Sleep karya Matthew Walker (2017), kurang tidur secara konsisten dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, kemampuan belajar, produktivitas, hingga kesehatan fisik dalam jangka panjang.
Ironisnya, semakin capek seseorang, kadang justru semakin sulit baginya untuk berhenti scrolling. Hal ini berkaitan dengan kemampuan self-control yang menurun ketika tubuh dan mental sedang lelah.
Dikutip dari penelitian Bedtime Procrastination, Sleep Insufficiency, and Self-Regulation oleh Floor M. Kroese dkk. (2016), bedtime procrastination memiliki hubungan dengan kemampuan regulasi diri yang lebih rendah dan kualitas tidur yang lebih buruk.
Makanya banyak orang punya pola yang sama, kayak siang kelelahan, malam begadang, besok makin lelah, lalu malam berikutnya mengulang hal yang sama lagi. Siklusnya terus berputar.
Kalau dipikir-pikir, revenge bedtime procrastination sebenarnya bukan soal malas tidur. Justru sering kali itu tanda bahwa seseorang merasa hidupnya terlalu penuh sampai harus “mencuri” waktu untuk dirinya sendiri di malam hari.
Masalahnya, waktu yang dicuri itu dibayar dengan energi hari esok. Kalau akhir-akhir ini kamu sering tidur jam 1 atau 2 pagi tanpa alasan yang jelas, mungkin yang kamu butuhkan bukan sekadar alarm tidur.
Mungkin kamu juga perlu bertanya “Apa aku sudah punya cukup waktu untuk diriku sendiri di siang hari?”
Karena kadang yang bikin kita terus terjaga bukan kurang ngantuk, tapi merasa hari ini belum benar-benar jadi milik kita.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten seputar psikologi, self-growth, relationship, dan fenomena Gen Z yang relate sama kehidupan sehari-hari. Jangan lupa share artikel ini ke teman yang selalu bilang “5 menit lagi tidur” tapi online sampai jam 2 pagi yaa
