Kalau ngomongin Proklamasi Kemerdekaan, yang biasanya kita ingat cuma satu: 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta, teks Proklamasi, selesai.
Padahal, di balik momen bersejarah itu ada banyak cerita kecil yang nggak kalah menarik. Bahkan beberapa di antaranya terdengar seperti adegan film.
Dari Soekarno yang sedang sakit sampai foto Proklamasi yang harus diselamatkan diam-diam. Ini dia beberapa faktanya.
1. Soekarno Membacakan Proklamasi dalam Kondisi Sakit
Beberapa jam sebelum membacakan Proklamasi, Soekarno ternyata sedang dalam kondisi kurang sehat. Ia mengalami gejala malaria dan sempat tidur karena demam setelah sebelumnya begadang dalam proses perumusan naskah Proklamasi.
Meski begitu, sekitar pukul 09.00 ia bangun dan tetap menjalankan rencana pembacaan Proklamasi pada pukul 10.00 Wib.
2. Tiang Benderanya Cuma Bambu
Nggak ada tiang bendera megah atau persiapan super rapi. Karena semuanya dilakukan dalam situasi serba mendadak, S. Suhud justru menyiapkan sebatang bambu dari belakang rumah Soekarno.
Bambu tersebut dibersihkan, diberi tali, lalu ditanam beberapa langkah dari teras. Simpel banget, tapi dari situlah Sang Merah Putih pertama kali dikibarkan setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
3. Bendera Merah Putih Dijahit Fatmawati
Bendera yang dikibarkan saat Proklamasi dijahit sendiri oleh Fatmawati. Menariknya, bendera tersebut awalnya memang tidak dibuat dengan ukuran standar seperti bendera yang kita kenal sekarang.
Fatmawati menjahitnya dengan tangan dalam situasi persiapan yang serba terbatas. Bendera tersebut kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka dan terakhir kali dikibarkan pada 1969.
4. Foto Proklamasi Hampir Hilang
Foto ikonik Soekarno saat membacakan Proklamasi ternyata punya cerita yang cukup menegangkan.
Frans dan Alex Mendur berhasil mengabadikan momen tersebut secara diam-diam. Setelahnya, tentara Jepang menangkap Alex dan merampas serta menghancurkan film yang dibawanya.
Frans berhasil lolos. Ia kemudian menyembunyikan negatif fotonya dengan menguburnya di tanah dekat sebuah pohon. Setelah situasi lebih aman, negatif tersebut diambil kembali dan akhirnya menjadi dokumentasi bersejarah yang kita kenal sekarang.
5. Berita Proklamasi Disebar dengan Cara Kucing-Kucingan
Menyebarkan kabar kemerdekaan saat Jepang masih mengawasi media jelas bukan perkara gampang. Para pekerja radio dan kantor berita Domei harus mencari cara agar teks Proklamasi bisa disiarkan tanpa melewati sensor Jepang.
Salah satu caranya adalah menyelipkan naskah Proklamasi ke dalam morse-cast Domei. Berkat aksi tersebut, berita kemerdekaan akhirnya bisa disebarkan lebih luas.
6. Semua Persiapannya Ternyata Serba Dadakan
Mulai dari tiang bendera, pengeras suara, sampai berbagai kebutuhan upacara, banyak yang baru dipersiapkan menjelang acara. Bahkan mikrofon yang digunakan juga dibuat dengan peralatan seadanya.
Jadi, kalau melihat kembali momen Proklamasi, ternyata semuanya nggak berlangsung dengan persiapan sempurna. Justru di tengah situasi yang serba terbatas dan menegangkan, orang-orang saat itu tetap berusaha membuat momen tersebut terjadi.
Pada akhirnya, mungkin ini yang bikin cerita Proklamasi terasa semakin dekat. Di balik momen yang sekarang terlihat sangat monumental, ada orang-orang yang berimprovisasi, kejar-kejaran dengan keadaan, bahkan mempertaruhkan keselamatan supaya kabar kemerdekaan Indonesia bisa benar-benar sampai ke masyarakat.
Jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk informasi menarik lainnya, ya!










