Pernah nggak sih, baru selesai mengirim chat ke seseorang, tiba-tiba otak mulai bekerja lembur?
“Jangan-jangan dia tersinggung?”
“Gimana kalau aku salah ngomong?”
“Kalau besok terjadi sesuatu yang buruk gimana?”
Padahal belum tentu ada apa-apa, tapi otak sudah membuat satu episode lengkap dengan berbagai kemungkinan.
Kalau sesekali terjadi, hal seperti ini cukup umum. Namun, pada orang dengan anxiety disorder, rasa khawatir bisa terasa jauh lebih intens dan sulit dikendalikan.
Anxiety disorder bukan sekadar “kebanyakan mikir”. Kondisi ini membuat tubuh dan pikiran seperti terus berada dalam mode siaga, bahkan ketika sebenarnya tidak ada bahaya yang sedang terjadi.
Kenapa Otak Bisa Terus Khawatir?
Saat seseorang merasa terancam, tubuh sebenarnya punya sistem alami untuk merespons bahaya. Otak akan mengaktifkan respons fight or flight agar tubuh siap menghadapi situasi tersebut.
Masalahnya, pada anxiety disorder, alarm ini bisa aktif meskipun ancamannya belum tentu nyata atau bahkan belum terjadi.
Makanya, seseorang bisa merasa jantung berdebar, sulit berkonsentrasi, gelisah, otot tegang, sampai susah tidur. Pikiran pun ikut mencari berbagai kemungkinan buruk untuk “bersiap-siap”.
Jadinya seperti punya tab browser yang nggak pernah ditutup.
“Gimana Kalau…” yang Nggak Ada Habisnya.
Salah satu hal yang sering muncul adalah kebiasaan membayangkan skenario terburuk. Misalnya, mau presentasi saja sudah terpikir bakal salah, ditertawakan, atau dianggap tidak kompeten.
Padahal, belum tentu semua itu terjadi.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) yang diterbitkan American Psychiatric Association, gangguan kecemasan dapat melibatkan rasa takut atau khawatir yang berlebihan dan sulit dikendalikan, serta bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.
Jadi, persoalannya bukan sekadar punya rasa cemas. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kecemasan mulai terasa berlebihan, menetap, dan mengganggu aktivitas.
Bukan Harus Selalu Panik
Anxiety disorder juga nggak selalu berarti seseorang terlihat panik setiap saat. Ada yang justru kelihatan santai dari luar, tetapi pikirannya terus dipenuhi kekhawatiran.
Karena itu, penting untuk nggak buru-buru menganggap seseorang “lebay” atau “terlalu overthinking”. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.
Kalau rasa cemas sudah membuat aktivitas sehari-hari terganggu atau terasa sulit dikendalikan, mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental bisa menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, otak yang terus bertanya “gimana kalau?” bukan berarti seseorang lemah. Kadang, otaknya memang sedang bekerja terlalu keras untuk menjaga dirinya tetap aman.
Jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk informasi menarik lainnya, ya!










