Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Mengusut Dana MBG: Jejak Politik, Aparat, dan Elite di Balik Anggaran Ratusan Triliun
Nasional

(Part II) Mengusut Dana MBG: Jejak Politik, Aparat, dan Elite di Balik Anggaran Ratusan Triliun

iren natania longdongAmin Suciady
Last updated: Januari 21, 2026 6:12 pm
Iren Natania
Amin Suciady
Share
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara. (ANTARA FOTO/Andry Denisah/wsj)
SHARE

Pengamat Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menyatakan, penelusuran Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkap praktik patronase serta keterlibatan Politically Exposed Person (PEPs) dalam pelaksanaan program MBG, tidak bisa dibaca sekadar sebagai masalah administratif, melainkan peringatan awal adanya risiko pembajakan kebijakan oleh kepentingan kekuasaan.

Daftar isi Konten
  • Standar Ketat dan SOP Tegas
  • Desain Tata Kelola Program Lemah
  • Jadi Alat Konsolidasi Politik
  • Nihil Integritas

Bacaan saya, temuan ICW ini bukan sekadar isu administratif, melainkan sinyal dini tentang masalah desain kebijakan,”

kata Ronny kepada owrite.

Dirinya menegaskan, besarnya proporsi mitra yang memiliki afiliasi politik menunjukkan mekanisme seleksi yang tidak netral. 

Ketika hampir sepertiga mitra program sosial nasional terafiliasi dengan partai politik, aparat, militer, atau keluarga elite, artinya mekanisme seleksi mitra tidak steril dari kekuasaan,”

ujarnya.

Dalam kerangka kebijakan publik modern, Ronny menyebut kondisi ini sebagai state capture risk, yakni ketika program negara berpotensi ditarik ke orbit kepentingan politik, bukan kepentingan publik. 

Menurut dia, situasi tersebut telah memenuhi unsur konflik kepentingan secara substantif, meskipun belum tentu langsung menjadi pelanggaran pidana.

Ia pun menjelaskan, konflik kepentingan akan menjadi pelanggaran hukum apabila afiliasi politik terbukti memengaruhi proses seleksi mitra, alokasi anggaran, pengawasan, atau menimbulkan kerugian negara. 

Risiko terbesarnya adalah program berubah dari kebijakan sosial menjadi instrumen patronase politik. Negara membayar, elite menikmati, sementara kualitas layanan ke publik menjadi nomor dua,”

paparnya.

Ronny juga menyoroti fakta, bahwa program MBG telah berjalan hampir 10 bulan tanpa aturan teknis dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Dalam perspektif good governance, kondisi ini ia nilai sangat serius. 

Menjalankan program nasional tanpa aturan teknis ibarat membangun gedung tanpa gambar dan desain, mungkin berdiri, tapi rawan roboh dan sulit dimintai pertanggungjawaban,”

ucapnya.
Mengusut Dana MBG: Jejak Politik, Aparat, dan Elite di Balik Anggaran Ratusan Triliun (Bagian 1)

Standar Ketat dan SOP Tegas

Menurut hemat Ronny, ketiadaan SOP justru menciptakan ruang diskresi berlebihan, yang disebut discretion overload, yaitu terlalu banyak ruang tafsir dan terlalu sedikit kontrol.

Dampaknya, risiko korupsi dan penyalahgunaan anggaran menjadi sangat tinggi, mulai dari mark-up biaya pangan, penurunan kualitas makanan demi margin, hingga munculnya yayasan fiktif atau semi-aktif.

Ia menegaskan, lemahnya standar keamanan pangan bukan persoalan administratif semata. 

Bahayanya langsung, bukan sekadar isu administratif. Kita bicara soal anak-anak dan kelompok rentan,”

ujar Ronny. 

Tanpa standar yang ketat, menurutnya risiko keracunan massal, gizi buruk terselubung, hingga krisis kepercayaan publik sangat mungkin terjadi.

Peneliti senior itu pun menilai pihak yang paling dirugikan adalah penerima manfaat, terutama anak-anak dari keluarga miskin. Karena itu, ia mendesak langkah korektif segera dilakukan. 

Pertama, moratorium terbatas untuk audit tata kelola dan mitra. Kedua, terbitkan aturan teknis dan SOP nasional yang mengikat. Ketiga, buka data mitra, anggaran, dan kinerja ke publik,”

katanya.

Ia pun memberikan peringatan keras:

Pendeknya, program sosial tidak boleh dikelola seperti proyek politik. Kalau itu terjadi, yang kenyang bukan rakyat, tapi jejaring kekuasaan.”

Desain Tata Kelola Program Lemah

Sementara itu, peneliti Center for Economic and Law Studies (CELIOS) Galau D. Muhammad, menilai temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait afiliasi politik yayasan mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai gejala serius pembajakan kebijakan dalam spektrum belanja sosial negara. 

Menurut Galau, keberadaan puluhan yayasan yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan bukan anomali administratif, melainkan simptom struktural dari lemahnya desain tata kelola program.

Kalau kita baca dari temuan ICW, itu ada puluhan yayasan yang memiliki afiliasi politik dalam program MBG. Ini menjadi simptom yang sebenarnya bisa dilihat di banyak wilayah, bahwa adanya policy capture dalam spektrum belanja sosial,”

ujar Galau pada owrite.

Secara ekonomi, sambungnya, MBG merupakan program dengan insentif besar yang ditujukan secara spesifik kepada kelompok rentan.

Namun ketika pelaksana program memiliki afiliasi politik, orientasi kebijakan berisiko bergeser. 

Ketika ada mitra pelaksana yang memiliki afiliasi politik, praktik di lapangan yang seharusnya objektif dan teknokratik menjadi terdistorsi,”

ujarnya.

Menurut Galau, pelibatan yayasan dalam program MBG semestinya berbasis pada kapabilitas, sertifikasi dan kemampuan mengelola rantai pasok pangan.

Ironisnya, ketiadaan mekanisme seleksi dan audit yang ketat justru membuka ruang bagi penunjukan yayasan minim pengalaman. 

Tidak wajar ada yayasan baru, minim pengalaman dalam manajemen pangan, dipaksakan mengelola distribusi dan rantai pasok. Ini sangat berisiko,”

tegasnya.

Galau menilai, konflik kepentingan muncul ketika aktor yang memiliki pengaruh politik sekaligus menerima manfaat ekonomi dari implementasi kebijakan. 

Konflik kepentingan ini menjadi pelanggaran etik, ketika ada relasi langsung terhadap proses kebijakan dan aktor yang sama mendapatkan manfaat dalam implementasinya,”

jelasnya. 

Dalam kondisi tersebut, sistem tata kelola yang longgar dinilai gagal memitigasi penyalahgunaan. Ia juga menyoroti fakta, bahwa MBG berjalan tanpa aturan teknis dan standar operasional yang memadai. 

Ketika pemerintah gagal memastikan mekanisme itu diatur dalam satu kerangka hukum yang jelas, negara kehilangan fiscal control framework,”

paparnya.

Dampaknya, standar biaya, mutu gizi, hingga sanksi atas pelanggaran tidak memiliki pijakan yang kuat. Risiko paling nyata menyasar langsung penerima manfaat. 

Lemahnya standar keamanan pangan dampaknya sangat serius. Kita kehilangan baseline dan arah, sementara negara hanya memastikan distribusi tanpa mengukur outcomes,” 

ujarnya.

Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan pemborosan fiskal jangka panjang dan kegagalan investasi gizi. Galau menekankan, pihak yang paling dirugikan adalah anak-anak dan keluarga dengan kerentanan pangan tinggi, terutama di wilayah terpencil. Karena itu, ia mendorong langkah korektif drastis. 

Pemerintah perlu melakukan moratorium total program MBG untuk audit transparan dan komprehensif, memastikan efisiensi ekonomi dan dampak nyata investasi negara,”

ungkapnya.

Menurutnya, program sosial tidak cukup diperlakukan sebagai proyek penyerapan anggaran. 

Negara harus menjadi penjamin standar, bukan sekadar penyalur anggaran. Pembayaran harus dikaitkan dengan kinerja dan mutu, serta transparan agar publik bisa mengawasi langsung,”

katanya.

Ia pun menutup dengan menegaskan, bahwa MBG hanya akan menjadi investasi bermakna jika terbebas dari relasi kuasa dan afiliasi politik. 

Yang sedang kita bangun adalah masa depan anak-anak yang tidak punya pilihan selain percaya pada negara,”

pungkasnya.

Jadi Alat Konsolidasi Politik

Dari hasil penelitian tersebut, ICW menyimpulkan bahwa pelaksanaan MBG sarat akan praktik politik patronase dan konflik kepentingan.

Hal ini tercermin dari hubungan individu di yayasan penyelenggara dengan partai politik, tim pemenangan, pendukung Prabowo maupun Joko Widodo, militer, dan aparat penegak hukum.

Keterkaitan ini mengindikasikan adanya dugaan distribusi sumber daya atau akses tertentu kepada pihak-pihak yang memiliki kedekatan politik.

Selain itu, pola ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas dukungan politik, lantaran penerima akses dan manfaat cenderung membalas budi dengan memberikan loyalitas dan dukungan kepada pihak pemberi kemudahan. 

Sehingga, program ini diduga digunakan sebagai alat konsolidasi politik ketimbang memberi manfaat bagi publik.

Hal tersebut juga diperkuat dengan temuan penelusuran yang menunjukkan, bahwa yayasan-yayasan pengelola SPPG tidak memiliki relevansi, kompetensi, dan kualifikasi dalam memberikan makanan kepada penerima manfaat MBG.

Contohnya, sejumlah yayasan justru terafiliasi dengan aparat penegak hukum seperti Kejaksaan dan POLRI, serta militer.

Sedangkan tugas pokok dan fungsi dari institusi tersebut secara jelas tidak berkaitan dengan giat pengolahan pangan, serta peningkatan kesehatan dan gizi.

Adanya afiliasi yayasan penyedia MBG yang mengarah ke institu tersebut justru menunjukan bahwa upaya untuk memperkuat jejaring patronase di berbagai lini termasuk pada sektor penegakan hukum dan militer patut diduga sedang terjadi.

Afiliasi tersebut juga menunjukan bahwa tidak ada standar yang jelas untuk memilih dan menentukan yayasan sebagai mitra BGN.

Ketiadaan standar kompetensi ini juga tercermin dari munculnya afiliasi bisnis pada individu dalam yayasan, yang justru bergerak di bidang non pangan ataupun kesehatan. Seperti bisnis properti, telekomunikasi, konstruksi, hingga pertambangan.

Nihil Integritas

Di sisi lain, temuan bahwa sejumlah yayasan terafiliasi dengan orang-orang yang pernah terlibat dalam kasus korupsi mengindikasikan bahwa program ini tidak mempertimbangkan prinsip integritas dan antikorupsi.

Hal ini sekaligus memperkuat dugaan, bahwa pemilihan mitra lebih dipengaruhi oleh kedekatan politik dan afiliasi daripada rekam jejak etik.

Tanpa mempertimbangkan hal tersebut, maka potensi penyelewengan semakin terbuka lebar. Terlebih, anggaran negara yang dikelola berjumlah besar. Setiap SPPG disebutkan bisa mengelola anggaran sekitar Rp900 juta hingga Rp1 miliar per bulan.

Dengan batas maksimal SPPG yang dapat dikelola berjumlah 10 unit per yayasan, artinya setiap yayasan berpotensi mengelola hingga Rp10 miliar per bulan.

Bila yayasan penyedia SPPG justru diisi oleh orang yang pernah terlibat kasus korupsi, jaminan bahwa anggaran MBG dikelola secara tepat guna akan semakin sulit dicapai. 

Temuan juga menunjukkan masalah tata kelola MBG dengan adanya dugaan keterlibatan yayasan yang terafiliasi dengan BGN.

Tenaga ahli di tim teknis BGN yang ikut menjadi penyedia MBG, menunjukan bahwa upaya mekanisme pengawasan program dan pengendalian konflik kepentingan tidak pernah menjadi perhatian.

Apalagi, dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 Tentang Badan Gizi Nasional, tugas BGN disebutkan berkaitan dengan fungsi pemantauan dan pengawasan pemenuhan gizi nasional.

Pengawasan BGN terhadap pelaksanaan program berisiko sulit diwujudkan ketika terdapat individu dalam BGN yang ikut menjadi eksekutor program.

Individu dalam BGN tersebut menghadapi konflik kepentingan, lantaran independensi dan efektivitas pengawasan berpotensi terpengaruh.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, program MBG sangat berisiko disalahgunakan untuk kepentingan politik dan memperkuat jaringan patronase.

Oleh karena itu, rekomendasi tegas yang diajukan adalah menghentikan program MBG dan mengalokasikan anggarannya untuk kebijakan lain yang lebih bermanfaat bagi publik.

Tag:ICWKepala Daerahmakan bergizi gratisMBGparpolPrabowo SubiantoPresidenSpillyayasan
Share This Article
Email Salin Tautan Print
iren natania longdong
ByIren Natania
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Peristiwa Nasional dan Politik.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Jubir KPK, Budi Prasetyo
Hukum

Terjaring OTT, Kepala KPP Madya Banjarmasin Jadi Tersangka Korupsi Restitusi Pajak

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Kepala KPP Madya Banjarmasin, Mulyono Purwo Wijoyo sebagai tersangka kasus korupsi restitusi pajak setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar, Rabu, 4 Februari 2026.…

By
Rahmat
Dusep
1 Min Read
Ilustrasi seorang anak dan ibu di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Farel Yesha)
Ekonomi Bisnis

BPS: Jumlah Penduduk Miskin RI Capai 23,36 Juta, Kriteria Pengeluaran Rp641.443 per Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan, garis kemiskinan nasional sebesar Rp641.443 per orang atau setara Rp3.053.269 per rumah tangga miskin per bulan pada September 2025. Dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 23,36 juta…

By
Anisa Aulia
Dusep
2 Min Read
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR Adies Kadir (tengah) menerima ucapan selamat dari anggota DPR saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
Nasional

Kontroversi Pemilihan Hakim MK: Wujud Nyata Problem Serius Mekanisme Seleksi Pejabat Negara

Pemilihan Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR oleh Komisi III DPR mendapat kritikan tajam dari berbagai kalangan. Pasalnya, prosesnya dilakukan secara tertutup dan publik tidak diberikan ruang…

By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Koalisi masyarakat sipil melaporkan entitias Israel atas kejahatannya ke Kejagung. (Sumber: Owrite/Rahmat Baihaqi)
Nasional

Koalisi Masyarakat Sipil Laporkan Israel ke Kejagung Soal Genosida dan Rusak RS Indonesia 

Koalisi masyarakat sipil melaporkan otoritas Israel ke Kejaksaan Agung (Kejagung) atas kejahatan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owritedusep-malik
By
Rahmat
Dusep
2 jam lalu
Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan Tahun 2026 sebesar Rp769,1 triliun dengan program prioritas antara lain yakni kesejahteraan guru, program Indonesia pintar, hingga digitalisasi pembelajaran. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.
Nasional

Duka di Bangku Sekolah Dasar NTT, Kemendikdasmen Akui Dukungan Uang Tak Menjamin Semua

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya…

iren natania longdongdusep-malik
By
Iren Natania
Dusep
3 jam lalu
Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Bersatu (Jokman), Andi Azwan. (Foto: owrite)
Nasional

Andi Azwan Nilai Isu Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Sengaja Dipelihara Terkait Pemilu 2029

Ketua Umum Jokowi Mania (Jokman) Nusantara Bersatu, Andi Azwan, menilai ada beberapa…

Syifa FauziahAmin Suciady
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
3 jam lalu
Dokumen istimewa
Nasional

Mengapa HPN 9 Februari

Tanggal 9 Februari 1946 yang menjadi dasar penetapan Hari Pers Nasional (HPN)…

Amin Suciady
By
Amin Suciady
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up