Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 11 Apr 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Spill
  • DPR
  • BMKG
  • Banjir
  • iran
  • sumatera
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part I) Pancang Retak Pilar Keempat: Menakar ‘Pagar Api’ Jurnalis di Balik Ritus HPN
Nasional

(Part I) Pancang Retak Pilar Keempat: Menakar ‘Pagar Api’ Jurnalis di Balik Ritus HPN

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 10, 2026 12:11 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi aktifitas kerja pers/media
Gambar ilustrasi aktifitas kerja pers/media. (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Raden Mas Djokomono sejatinya lahir di atas tumpukan privilese di Blora, sekitar tahun 1880. Mengalir di tubuhnya darah biru Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, cucu seorang Bupati Bojonegoro yang terpandang.

Namun, takdir enggan melihatnya sekadar menjadi priayi mapan yang duduk manis di bawah ketiak kolonial.

Djokomono muda memilih jalan pedang yang berbeda: menanggalkan kenyamanan, keluar dari sekolah dokter STOVIA dan mengganti pisau bedah dengan pena yang tajam. Ia terlahir kembali sebagai Tirto Adhi Soerjo.

Jauh sebelum pergerakan nasional 1908, Tirto sudah bergerak senyap namun mematikan. Pada 7 Februari 1903, ia nekat merogoh kocek sendiri untuk mendirikan Soenda Berita, surat kabar pertama yang dimodali, dikelola, dan diterbitkan sepenuhnya oleh pribumi—sebuah anomali di tengah dominasi pers Belanda dan Tionghoa. Surat kabar itu akhirnya karam lantaran problem finansial saat Tirto berkeliling Nusantara menggalang dana.

Kegagalan itu justru membidani lahirnya mahakarya terbesar dalam sejarah pers Indonesia pada 1 Januari 1907: Medan Prijaji.

Bukan sekadar koran, Medan Prijaji adalah toa pengeras suara bagi kaum “terperintah” yang selama ini bungkam, menjadikannya tonggak pertama jurnalisme Indonesia yang tidak hanya pencatat peristiwa, tapi juga melawan ketidakadilan.

Waktu berlalu, 8 Juni 1946 di Yogyakarta, berkumpullah para tokoh surat kabar dan tokoh pers nasional. Mereka bersepakat mendirikan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) berdasar pemikiran bahwa barisan penerbit pers nasional perlu segera ditata dan dikelola dalam ranah ideologi dan komersial. Sebab saat itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan berusaha mempertahankan pengaruhnya.

Sebenarnya, SPS telah lahir empat bulan sebelumnya, bersamaan dengan lahirnya Pesatuan Wartawa Indonesia (PWI) di Surakarta pada 9 Februari 1946. Peristiwa itulah mengibaratkan kelahiran PWI dan SPS sebagai saudara kembar.

Balai pertemuan “Sono Suko” di Surakarta pada 9-10 Februari itu, menjadi saksi lokasi wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul.

Pertemuan itu menyetujui pembentukan organisasi jurnalis nasional bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)—Mr. Sumanang Surjowinoto sebagai ketua dan Sudarjo Tjokrosisworo selaku sekretaris.

Kondisi pers nasional bidang percetakan mengalami kendala, maka 26 tahun kemudian, lahir Serikat Grafika Pers (SGP).

Januari 1968, sebuah nota permohonan yang mendapat dukungan SPS dan PWI, dilayangkan kepada Presiden Soeharto agar pemerintah membantu memperbaiki keadaan pers, terutama dalam mengatasi pengadaan peralatan cetak dan bahan baku.

Mengingat sejarah pers nasional sebagai wadah perjuangan cum pembangunan, maka pada 23 Januari 1985, Presiden Soeharto menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Hal ini diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985.

Artinya, Hari Pers Nasional adalah hari kelahiran PWI: sebuah pesta ulang tahun privat yang didandani seolah hajatan negara, merayakan organisasi yang pernah duduk manis di pangkuan Orde Baru sebagai ‘anak tunggal’ yang patuh.

Sementara pers lain—Tempo, Majalah Editor dan Tabloid Detik—yang kritis dipaksa mati muda, atau tiarap di bawah laras senapan pembredelan.

Eks Ketua Umum PWI Hendry Ch Bangun, berkata peristiwa yang dialami oleh pers nasional era dahulu menunjukkan bahwa 9 Februari 1946 sebagai modal untuk menetapkan HPN dibandingkan dengan peristiwa lainnya.

Sebab tanggal itu bukan sekadar hari lahir PWI, tetapi bersatunya seluruh wartawan untuk menyokong Republik Indonesia berusia jabang bayi yang terancam keberadaannya, agar dapat bertahan kukuh berdiri sebagai negara kesatuan seperti saat ini,”

kata dia.

Pilar Empat

Peringatan HPN menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi kembali posisi pers di Indonesia.

Anggota Dewan Pers, Abdul Manan, menilai bahwa pers nasional saat ini belum sepenuhnya berhasil menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi (The Fourth Estate) terutama dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan.

Kritik publik terhadap media yang dianggap tumpul menjadi indikator nyata bahwa fungsi watchdog (anjing penjaga) terhadap lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif belum berjalan optimal.

Banyak kritik terhadap media karena peran itu (kontrol sosial), menunjukkan bahwa media belum menjalankan fungsi sebagai pilar keempat demokrasi dengan baik,”

ucap Manan kepada owrite.

Mantan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini menyoroti minimnya sikap kritis pers secara kontinu terhadap program-program pemerintah yang berdampak luas.

Ia mencontohkan bagaimana media seharusnya lebih tajam menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh kontroversi, mulai dari tata kelola hingga insiden keracunan.

Umpama lain perihal Proyek Strategis Nasional (PSN) yang kerap mengabaikan hak masyarakat adat dan menggunakan pendekatan keamanan.

Semestinya pers bisa membingkai itu dalam kacamata “keuntungan kecil bagi rakyat dari proyek”, agar fungsi pilar keempat demokrasi berjalan optimal.

Tantangan integritas wartawan kian berat, terutama bagi mereka yang bekerja di media yang berafiliasi dengan partai politik atau politisi. Inilah “ujian terbesar” bagi jurnalis.

Mereka harus bergulat setiap hari demi menyeimbangkan kepentingan publik dengan kepentingan pemilik, itu adalah gangguan nyata.

Bagi wartawan yang bekerja di media dan private (independen) yang sama sekali tidak ada hubungan dengan politisi, akan lebih leluasa menjaga idealisme. Tapi tantangan bagi wartawan di media milik politisi itu sangat besar,”

jelas Manan.

Wartawan di media independen menghadapi risiko eksternal seperti intimidasi, teror, atau boikot iklan. Namun, wartawan di media partisan menghadapi risiko internal yang menguji nurani profesi. Posisi mereka bila berseberangan dengan pemilik pun bisa mengakibatkan wartawan “menepi” lantaran tantangan terlalu berat.

Menanggapi potensi revisi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers di tengah dinamika kekerasan dan kriminalisasi, Manan mengambil sikap konservatif.

Ia berpendapat problem utama bukan pada norma hukum, melainkan pada implementasi dan komitmen aparat penegak hukum.

Problem dari UU Pers itu bukan pada normanya, tapi pada implementasinya. Mengubah redaksional kata ‘perlindungan’ dalam undang-undang bukan jaminan akan lebih melindungi wartawan,”

tutur Manan.

Pasal 8 UU Pers memaktubkan wartawan dalam menjalankan profesinya dilindungi hukum, tapi masih terjadi kekerasan pemidanaan, terjadi gugatan perdata, serangan terhadap wartawan.

Pasal tersebut menjadi tumpul bila polisi, jaksa, dan hakim enggan berkomitmen melindungi kemerdekaan pers. Maka sangat penting penerapan MoU Dewan Pers dan aparat guna mencegah kriminalisasi dini terhadap karya jurnalistik.

Kalau tidak ada komitmen (dari aparat), sebaik apapun undang-undang tidak akan jalan juga,”

sambung dia.

Manan berharap pemerintah dan parlemen menunjukkan keberpihakan bukan dengan mengutak-atik regulasi saja, melainkan dapat memastikan pelaku kekerasan terhadap wartawan disanksi sesuai peraturan demi melindungi kebebasan pers.

Tag:ajialiansi jurnalis independenHari Pers NasionalijtiIkatan Jurnalis Televisi IndonesiajurnalismediaperspwiRaden Mas DjokomonoSerikat Penerbit SuratkabarSpillSPSTirto Adhi SoerjoWartawan
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Presiden Prabowo Subianto
Nasional

Prabowo Sebut Banyak Anggota Satgas PKH Diancam dan Diintimidasi

Presiden Prabowo Subianto mengaku mendapat laporan dari anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), yang kerap mendapat ancaman hingga intimidasi saat menjalankan tugasnya untuk menagih denda administratif hingga penguasaan…

By
Rahmat
Ivan
2 Min Read
Perusahaan petrokimia Lotte Chemical Indonesia
Ekonomi Bisnis

Rantai Pasok Global Terguncang, Lotte Chemical Fokus Amankan Industri Hilir RI

Perusahaan petrokimia Lotte Chemical Indonesia (LCI) menegaskan akan memprioritaskan ketersediaan pasokan bagi industri hilir Nusantara di tengah meningkatnya tekanan rantai pasok global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Menghadapi kondisi…

By
Iren Natania
Ivan
2 Min Read
Pelatih Persija, Mauricio Souza
Olahraga

Persija Krisis Jelang Lawan Persebaya: Empat Pilar Absen, Souza Tertekan

Persija Jakarta akan berhadapan dengan Persebaya Surabaya pada lanjutan BRI Super League 2026 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026. Pelatih Persija, Mauricio…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo Subianto
Nasional

Prabowo: Kalau Ada yang Ancam Satgas PKH, Berarti Mengancam Presiden

Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang menganggu kerja Satuan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteIvan OWRITE
By
Rahmat
Ivan
6 jam lalu
Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesi RRD Korea, Teguh Santosa
Nasional

Dari Bunga Kimilsungia, Jejak Diplomasi yang Mengakar Hingga Kini

Diplomasi tak selalu berlangsung dalam ruang rapat yang formal dan penuh ketegangan.…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
8 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto di Kejaksaan Agung. (Sumber: YT/Setpres)
Nasional

Prabowo Sindir Pengusaha Tambang Nakal, Izin Sudah Dicabut Tapi Dablek

Presiden Prabowo Subianto memberikan sindiran menohok pengusaha tambang nakal tetap beroperasi meski…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owritedusep-malik
By
Rahmat
Dusep
9 jam lalu
Ilustrasi anak main handphone
Nasional

PP Tunas Resmi Berlaku, Psikolog Soroti Peran Penting Orang Tua Awasi Anak di Dunia Digital

Psikolog anak dan keluarga, Sani B Hermawan memberi tanggapan terkait Peraturan Pemerintah…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
11 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up