PT Kereta Api Indonesia (Persero) meluncurkan Kereta Ekonomi Kerakyatan menjelang arus mudik Lebaran 2026. Tiket layanan ini mulai dijual pada 25 Februari 2026.
Peluncuran kereta tersebut menjadi bagian dari strategi penambahan kapasitas angkut saat permintaan perjalanan meningkat signifikan pada musim Lebaran. Layanan tersebut dirangkaikan pada KA Tambahan relasi Pasarsenen–Lempuyangan.
Manager Humas Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan kehadiran Kereta Ekonomi Kerakyatan ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap transportasi mudik yang terjangkau.
Kereta Ekonomi Kerakyatan dihadirkan untuk memperluas akses perjalanan Lebaran. Kapasitas bertambah, kenyamanan meningkat, dan tarif terjangkau. Ini bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara daya angkut dan kualitas perjalanan saat permintaan Lebaran meningkat,”
kata Franoto dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 25 Februari 2026.
Dalam satu rangkaian KA Tambahan tersebut, KAI mengoperasikan lima kereta eksekutif dan empat kereta ekonomi kerakyatan. Total kapasitas kereta eksekutif mencapai 250 tempat duduk, sementara ekonomi kerakyatan menyediakan 372 tempat duduk.
Rangkaian ini beroperasi melalui KA 7039 Tambahan Lempuyangan–Pasarsenen yang berangkat pukul 06.00 WIB dan tiba 13.56 WIB, serta KA 7040 Tambahan Pasarsenen–Lempuyangan yang berangkat pukul 15.25 WIB dan tiba 22.57 WIB.

Kereta Ekonomi Kerakyatan juga merupakan hasil modifikasi kereta ekonomi AC package generasi sebelumnya yang dikerjakan di Balai Yasa Manggarai. Penyesuaian difokuskan pada interior dan konfigurasi kursi.
Selain itu, setiap unit memiliki 93 tempat duduk dengan formasi 3:2, lebih sedikit dibanding konfigurasi sebelumnya yang mencapai 106 kursi. Kursi juga dilengkapi fitur reversible yang memungkinkan arah duduk disesuaikan dengan laju kereta untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan jarak jauh.
Dari sisi tarif, kelas ini diposisikan di atas layanan PSO dan di bawah Ekonomi Reguler. Skema tersebut ditujukan untuk memberikan alternatif harga yang tetap terjangkau dengan fasilitas yang lebih baik dibandingkan kelas ekonomi bersubsidi.
Franoto menyebut optimalisasi sarana eksisting menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas secara cepat menjelang Lebaran.
Lebaran menuntut kesiapan menyeluruh. Melalui inovasi pada sarana yang ada, kapasitas bertambah dan kualitas perjalanan meningkat. Pelanggan memiliki lebih banyak pilihan jadwal serta kelas sesuai kebutuhan,”
tutup Franoto.


