Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai, kenaikan harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran telah mengancam stabilitas ekonomi nasional jelang mudik Lebaran 2026. Kondisi ini akan membebani masyarakat yang hendak mudik.
Djoko mengatakan, lonjakan harga minyak menjadi alarm bagi ketahanan energi nasional. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan rapuhnya sistem transportasi Indonesia yang terlalu bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) fosil dan terus mengabaikan urgensi pengembangan angkutan umum.
Ketegangan geopolitik antara Israel-AS dan Iran mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri menjelang mudik Lebaran 2026. Dampak utamanya terasa pada kenaikan harga minyak dunia yang berisiko meningkatkan harga BBM. Hal ini tentu akan membebani biaya transportasi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan mudik,”
ujar Djoko dalam keterangannya Senin, 9 Maret 2026.
Djoko mengatakan, jumlah kendaraan yang mudik diperkirakan sedikit mereda tahun ini akibat melemahnya daya beli masyarakat. Namun, menurutnya tetap akan ada lonjakan volume kendaraan.
Dijelaskan Djoko, saat ini Indonesia masih mengimpor energi, yang mana konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari. Sementara produksi domestik hanya 860 barel per hari.
Peningkatan jumlah kendaraan, baik mobil pribadi, sepeda motor, maupun angkutan umum, secara otomatis akan menyedot BBM lebih banyak ketimbang hari biasa. Sangat mungkin bahwa perang yang berimbas pada ketersediaan bahan bakar akan membayangi aktivitas mudik,”
tuturnya.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pergerakan masyarakat selama angkutan Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau 50,6 persen penduduk.
Djoko menuturkan, pergerakan terbesar pemudik berasal dari Jawa Barat dengan 30,97 juta orang, Jakarta 19,93 juta orang, dan Jawa Timur 17,12 juta orang. Sementara dari sisi tujuan, terbanyak mengarah ke Jawa Tengah 38,71 juta orang, Jawa Timur 27,29 juta orang, dan Jawa Barat 25,09 juta orang.
Djoko mengatakan, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2012, sebanyak 93 persen BBM habis untuk kendaraan pribadi dengan komposisi 40 persen sepeda motor dan 53 persen mobil. Sedangkan untuk truk 4 persen, dan angkutan umum 3 persen.
Kenaikan harga minyak global berpotensi menjadi uji ketahanan bagi sistem transportasi Indonesia yang sejauh ini masih didominasi oleh kendaraan pribadi dan ketergantungan tinggi pada BBM fosil,”
jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang, untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Opsi ini akan dilakukan bila harga minyak dunia terus melambung akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Purbaya mengatakan, opsi kenaikan ini dilakukan bila Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) tidak lagi kuat menahan harga minyak. Langkah ini pun untuk mencegah potensi APBN jebol atau defisit melewati batas yang ditetapkan sebesar 3 persen.
Kalau emang anggarannya nggak kuat sekali, nggak ada jalan lain, kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM, kalau emang harga (minyak) tinggi, anggarannya enggak tahan lagi,”
ujar Purbaya dalam media briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Minggu, 8 Maret 2026.
Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro 2026, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dipatok sebesar US$70 per barel.


