Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran resmi menetapkan pusat ekonomi, lembaga perbankan, serta infrastruktur raksasa teknologi Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai “target sah” serangan mereka.
Langkah ini merupakan aksi balasan setelah 12 hari pertempuran yang turut menghantam sektor perbankan Iran, menandai meluasnya konflik regional menjadi “perang infrastruktur” skala besar.
Iran dilaporkan tengah membidik sejumlah raksasa teknologi dunia seperti Google, Microsoft, Nvidia, dan Oracle, serta institusi keuangan strategis milik Amerika Serikat dan Israel sebagai target serangan.
Guru Besar Bidang Ilmu Keamanan dan Kedamaian Universitas Pelita Harapan Edwin Tambunan menyatakan serangan terhadap korporasi multinasional adalah salah satu bentuk taktik perang asimetris baru yang dapat dipakai oleh negara-negara yang lebih lemah, seperti Iran dalam perangnya dengan AS-Israel. Ia menyebut taktik ini sebagai gerilya siber.
Taktik gerilya konvensional tidak mengenal front yang pasti, sporadis, dan dilakukan memanfaatkan celah kekuatan lawan. Ini jugalah yang dilakukan oleh gerilya siber. Titik serangan tidak bisa dipastikan oleh lawan, sehingga (lawan) harus berkonsentrasi di semua lini dalam waktu yang panjang. Tentu ini sangat melelahkan,”
kata Edwin kepada owrite, Kamis, 12 Maret 2026.
Berbeda dengan perang fisik yang memakan banyak biaya dan korban jiwa, gerilya siber memungkinkan negara dengan kekuatan militer yang lebih kecil untuk memberikan efek kejut yang masif.
Sama dengan gerilya konvensional, gerilya siber minim biaya dan korban. Dengan mengerahkan kekuatan kecil, biaya perang menjadi murah dan korban jiwa bisa dihindari. Faktor-faktor ini yang membuat Iran membuka front siber sebagai medan pertempuran baru. Sangat memalukan bagi AS dan Israel apabila pertahanan siber ini jebol dan hancur,”
jelas dia.
Berbeda dengan gerilya di hutan atau kota, gerilya siber memiliki daya rusak materi yang jauh lebih besar karena langsung menusuk ke jantung ekonomi digital.
Satu titik kelemahan dalam sistem pertahanan siber bisa menjadi “Kuda Troya” yang mengobrak-abrik seluruh jaringan.
Edwin menekankan ketergantungan dunia pada raksasa teknologi seperti Google dan Nvidia membuat serangan ini berdampak sistemik.
Jika institusi keuangan dan perusahaan teknologi ini lumpuh, perekonomian negara lawan tidak hanya terganggu, tapi bisa mengalami stagnasi total.
Dengan kemampuan gerilya siber mengobrak-abrik sistem dan jaringan, kerugian materi menjadi lebih besar. Perekonomian dari negara lawan tidak hanya sekadar terganggu, bahkan bisa lumpuh,”
tegas Edwin.
Perihal dampak terhadap stabilitas keamanan global, Edwin Tambunan memetakan dua skenario yang mungkin terjadi akibat serangan ini:
- Skenario Optimis (Deeskalasi): Jika kerusakan yang ditimbulkan sangat besar dan biaya pemulihannya terlalu mahal dan lama, Amerika Serikat dan Israel mungkin akan terpaksa mempertimbangkan ulang keterlibatan mereka dalam konflik fisik dan memilih jalur diplomasi untuk menghentikan kerugian ekonomi.
- Skenario Pesimis (Bencana Siber): Saling balas serangan siber yang tidak terkendali dapat memicu “bencana siber global”, yaitu kondisi jaringan internet dunia lumpuh.
Skenario pesimis ini dapat membutakan AS-Israel dan Iran, sehingga terjadi bencana siber yang menimbulkan kerugian hebat bagi dunia, bahkan jaringan siber global bisa lumpuh,
(Kerugian dirasakan) termasuk oleh negara besar lainnya seperti Rusia dan Tiongkok. Skenario ini bahkan dapat menyeret Rusia dan Tiongkok masuk ke dalam perang,”


