Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 1 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • prabowo
  • MBG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Wacana Penertiban Pengamat Tunjukkan Watak Otoritarian Rezim Prabowo
Nasional

Wacana Penertiban Pengamat Tunjukkan Watak Otoritarian Rezim Prabowo

owrite-adi-briantikaIvan OWRITE
Last updated: Maret 16, 2026 12:36 pm
Adi Briantika
Ivan
Share
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza. (Foto: owrite)
SHARE

Wacana Presiden Prabowo Subianto akan menertibkan para pengamat dan tokoh masyarakat sipil yang kritis terhadap pemerintah menuai sorotan tajam.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahaya bagi iklim demokrasi di Indonesia dan berpotensi mengembalikan negara pada sistem otoritarianisme.

Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, menilai wacana tersebut sangat mengkhawatirkan, terlebih jika pemerintah sampai menggunakan instrumen negara seperti badan intelijen untuk mengawasi suara-suara kritis.

Pernyataan Pak Prabowo ingin menertibkan, bahkan menggunakan badan intelijen untuk data-datanya, itu jelas sebuah sikap yang menunjukkan arah demokrasi Indonesia ini bisa mengalami kemunduran kembali,”

kata Efriza kepada owrite, Senin, 16 Maret 2026.

Situasi ini menjadi ironi. Di satu sisi, publik baru saja dikejutkan oleh teror penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus.

Namun, di sisi lain, kepala negara justru mengeluarkan pernyataan yang terkesan menyudutkan kelompok kritis.

Efriza menyoroti kontradiksi dalam sikap presiden. Prabowo sebelumnya tegas menyatakan ketidaksukaannya terhadap laporan menteri yang bersifat “Asal Bapak Senang”.

Tapi dalam praktiknya, presiden justru terkesan reaktif saat publik atau pengamat memberikan data pembanding.

Reaksi Prabowo ini, menurut Efriza, diduga kuat lantaran sugesti atau asupan informasi yang kurang tepat dari para pembantunya di sektor ekonomi.

Si pejabat melaporkan bahwa ekonomi Indonesia dalam keadaan baik dan justru menuding pengamat yang memproyeksikan potensi resesi sebagai pihak salah.

Jadi ini kontradiksi sekali. Pernyataan Prabowo menyatakan tidak ingin para menterinya memberikan laporan ; asal bapak senang’ tapi di sisi lain, ternyata dia tak bisa melihat bahwa dia sedang diprovokasi atau dibuat sebuah argumen (seolah) ada kesalahan pengamat politik, pengamat ekonomi, dan masyarakat yang mengkritik pemerintah,”

jelas Efriza.

Ia mengingatkan bahwa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga telah menyuarakan peringatan serupa.

JK menyoroti defisit anggaran luar biasa yang berpotensi memicu resesi, sebuah realitas yang kerap ditutupi oleh narasi positif dari pejabat terkait.

Sikap Presiden Prabowo yang cenderung membela menterinya dan menyalahkan kritik masyarakat dinilai membawa dampak domino yang berbahaya.

Jika diteruskan, hal ini dapat menciptakan budaya arogansi dalam Kabinet Merah Putih.

Antara lain, menteri dan pejabat akan merasa tidak pernah salah (kebal kritik) karena merasa selalu dilindungi oleh presiden atas dasar “keringat perjuangan” politik di masa lalu; ketika terjadi kegaduhan akibat kebijakan yang buruk (seperti polemik Makan Bergizi Gratis atau isu ekonomi), pemerintah menuduh rakyat sebagai penyebab kekacauan, bukan mengevaluasi kebijakan; pemerintah akan terjebak pada angka kepuasan publik yang dipoles, sementara realitas di akar rumput menunjukkan gejolak dan ketidakpuasan.

Semestinya Prabowo itu berpihak kepada masyarakat. Lebih baik Prabowo menyalahkan para menteri-menterinya, kenapa mereka (pemerintah) dikritik? Atau kenapa persepsi publik menganggap adanya resesi ekonomi? Itu yang harus dijawab,”

tegas Efriza.

Efriza pun memberikan catatan kritis bagi eksekutif maupun legislatif, untuk segera memperbaiki pola komunikasi politik dan evaluasi kebijakan:

  1. Presiden Prabowo diminta untuk tidak mudah percaya pada bawahan. Kritik masyarakat harus dilihat sebagai umpan balik yang menandakan adanya kesalahan dalam sebuah kebijakan, bukan serangan personal;
  2. Hentikan motif politik pribadi Menteri. Pejabat yang turun ke lapangan bukan untuk menyosialisasikan program, melainkan demi mendongkrak popularitas pribadi untuk kepentingan politik masa depan (seperti mengincar posisi Cawapres), padahal kinerja ekonominya sedang dipertanyakan.
  3. Anggota parlemen didesak untuk berani bersuara dan menjalankan fungsi pengawasannya. DPR tidak boleh hanya diam dan ikut menyalahkan masyarakat atau media sosial hanya karena merasa berada di barisan pendukung pemerintah.

Demokrasi itu kekuasaan diberikan oleh rakyat dan dijalankan kewenangannya oleh pemerintah, tapi legitimasi tetap ada di rakyat. Kalau (pemerintah) reaktif dan memaksakan kehendak, jelas pemerintahan ini bisa terjerumus kepada karakter otoritarian,”

ujar Efriza.

Semua polemik ini bermula ketika Presiden Prabowo menegaskan bakal menertibkan pengamat yang dia anggap rugi di bawah pemerintahannya.

Ia klaim pihak-pihak sama dengan koruptor yang merugikan negara, serta ia memiliki data intelijen perihal pengamat menerima duit dari kelompok tertentu guna membiayai mereka.

Mungkin karena merasa kalah, tidak punya kekuasaan, atau ada pihak yang hilang rezeki, terutama maling-maling, koruptor-koruptor, ya, merasa rugi dengan pemerintah. Kami mau tertibkan,”

ujar dia dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat, 13 Maret 2026.

Respons Prabowo akibat itu setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan “ada pihak yang mengatakan ekonomi di Indonesia mengalami krisis”.

Pengamat-pengamat ada beberapa macam, menurut saya. Pengamat-pengamat yang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Tapi menurut saya, sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan patriotik,”

kata Prabowo.
Tag:Iklim DemokrasiOtoritarianPenertiban PengamatRezimWacana
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Ivan OWRITE
ByIvan
Redaktur
Follow:
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat membahas soal BBM Nonsubsidi yang naik. (Sumber: Owrite/Iren Natania)
Ekonomi Bisnis

Bahlil ‘Sesumbar’ Sebut Indonesia Jadi Negara Terbaik Kedua soal Ketahanan Energi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, meski dinamika kondisi geopolitik global yang saat ini terjadi. Di tengah (kondisi) geopolitik…

By
Iren Natania
Dusep
4 Min Read
Skuad Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20. (Foto: Media Bhayangkara FC)
Olahraga

Hukuman Berat Pemain Bhayangkara U-20 Picu Kontroversi, Klub Resmi Ajukan Banding

Manajer Bhayangkara FC U-20, Yongky Pamungkas, mengungkapkan bahwa timnya telah menerima keputusan resmi dari PSSI melalui Komite Disiplin terkait insiden dalam laga melawan Dewa United U-20. Dalam putusan tersebut, Bhayangkara…

By
Hadi Febriansyah
Amin Suciady
4 Min Read
Ilustrasi Ojek Online. (Sumber: Unsplash/Afif Ramdhasuma)
Ekonomi Bisnis

Gojek dan Grab Angkat Suara soal Potongan Aplikasi 8 Persen

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Indonesia buka suara, terkait sikap Presiden Prabowo Subianto yang secara resmi mengumumkan sudah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang…

By
Anisa Aulia
Dusep
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) didampingi Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban (kiri), Ketua Umum KSPSI sekaligus Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat (kedua kiri), Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (ketiga kiri), Presiden KSPI Said Iqbal (kedua kanan) dan Ketua Umum KPBI Ilhamsyah (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Bayu Pratama S/nz)
Nasional

Prabowo Nyanyi Internasionale Bareng Buruh di May Day, Solidaritas atau Manuver Politik?

Lagu Internasionale kembali menggema dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day…

dusep-malikSyifa Fauziah
By
Dusep
Syifa Fauziah
1 jam lalu
Ilustrasi daycare
Nasional

Dampak Kekerasan di Daycare Terhadap Anak Bisa Akibatkan Trauma Seumur Hidup

Psikolog Meity Arianty, menyebut dugaan kekerasan yang dialami anak-anak di daycare (Taman…

Syifa FauziahAmin Suciady
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
2 jam lalu
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kelima kanan) bersama Wakil Ketua DPR Saan Mustopa (keempat kanan) memberikan keterangan pers usai memimpin audiensi bersama Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nz)
Nasional

DPR Kejar UU Ketenagakerjaan Baru Rampung 2026, Dasco: Buruh Dilibatkan Penuh

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan bahwa pemerintah bersama DPR…

hadi-febriansyah-owritedusep-malik
By
Hadi Febriansyah
Dusep
2 jam lalu
Pengendara sepeda motor melintas di perlintasan sebidang kereta api ,Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, pada 2026 tercatat 40 kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan 57,5 persen atau 23 kejadian terjadi di perlintasan tanpa palang pintu dan 42,5 persen atau 17 kejadian di perlintasan berpalang pintu.
Nasional

1.903 Perlintasan KA Ternyata ‘Yatim Piatu’, Menhub Dudy Gercep Pasang Skala Prioritas

Kementerian Perhubungan akan mempercepat penertiban perlintasan sebidang di semua titik. Hal ini…

Nisa-OWRITEowrite-adi-briantika
By
Anisa Aulia
Adi Briantika
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up