Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman mengungkapkan industri kini tengah menghadapi tekanan berat karena lonjakan harga plastik dan kelangkaan pasokan.
Akibatnya, produsen minuman plastik mempertimbangkan kembali menggunakan kemasan kaca.
Adhi mengatakan, para produsen minuman yang sebelumnya menggunakan kemasan kaca dan beralih ke plastik, kini berencana akan kembali memanfaatkan kaca untuk produknya.
Beberapa produsen minuman plastik misalnya yang dulu kaca berubah jadi plastik, sekarang sedang memikirkan kembali ke kaca. Minuman-minuman kembali ke kaca karena tidak ada alternatif lain kalau plastiknya kurang seperti itu,”
ujar Adhi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip 14 April 2026.
Adhi mengaku, saat industri makanan dan minuman sudah mengalami kesulitan untuk mendapat pasokan plastik. Bahkan, para pemasok dilaporkan mulai kehabisan stok dalam satu atau dua bulan kedepan.
Kita juga kesulitan mendapat dari pemasok plastik, beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan dan inilah yang menjadi masalah. Selain harga naik, juga ketersediaannya terbatas, dari beberapa pemasok ada yang bilang terakhir bulan Mei atau Juni sudah habis,”
jelasnya.
Plastik Naik 100 Persen
Adapun kenaikan harga plastik sudah signifikan mulai dari 30 persen, 60 persen, hingga 100 persen.
Sejumlah industri makanan frozen pun sudah mulai mengeluh, namun tidak bisa menaikkan harga jual terlalu tinggi.
Tadi pagi saja saya masih dapat laporan dari anggota, mereka untuk kemasan yang simple saja seperti plastik-plastik untuk kemasan bakso, frozen meat, dan lain sebagainya itu naik hampir 100 persen. Sementara kita tidak bisa menaikkan harga jual setinggi itu,”
paparnya.
Ia mengatakan, bila produsen menaikkan harga jual produk mengikuti lonjakan plastik. Maka otomatis penjualan akan menurun karena terbatasnya daya beli masyarakat.
Katakan kalau misalnya kontribusi kemasan terhadap harga pokok itu sekitar 25 persen saja ya, kalau itu naik 100 persen kan berarti ke harga pokok tinggi sekali pengaruhnya sekitar 25 persen. Dan ini akan menyebabkan industri mengalami kesulitan untuk menjual, karena produknya pasti harganya mahal sementara daya beli masyarakat terbatas,”
ungkap Adhi.
Minta Pemerintah Kasih Solusi
Akibat kondisi ini, Adhi tidak berani menyampaikan outlook industri makanan minuman di akhir 2026. Hal ini karena industri tengah fokus mencari alternatif mengatasi kenaikan harga plastik.
Saya belum berani menyampaikan outlook ke depan. Kita lebih fokus bagaimana kita mencari alternatif,”
tuturnya.
Adhi mengaku, sudah memberikan laporan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Budi Santoso agar dicarikan solusi.
Dalam pembahasan itu, pemerintah akan mencari alternatif impor guna mengatasi lonjakan harga plastik.
Ya, mau tidak mau kita harus impor, karena kalau dalam negeri tidak tersedia. Saya diskusi dengan industri hulu kita ya, di industri hulu plastik mereka juga produksinya berkurang jauh,”
ungkapnya.

