Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) meluncurkan program pendanaan jumbo senilai US$70 miliar atau setara sekitar Rp1.218 triliun (Kurs Rp17.405 per USD) untuk memperkuat sistem regional di Asia dan Pasifik di tengah meningkatnya tekanan geopolitik, konflik global, hingga ancaman krisis energi.
Kebijakan tersebut diumumkan langsung oleh Presiden ADB, Masato Kanda, saat membuka Pertemuan Tahunan ke-59 ADB di Samarkand, Uzbekistan, Senin, 4 Mei 2026.
Menurut Kanda, dunia saat ini memasuki era baru yang ditandai fragmentasi geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian pasar energi akibat konflik di Timur Tengah.
Pendekatan pembangunan yang konvensional dan terisolasi tidak lagi cukup. Untuk bertahan dan berkembang, negara-negara di kawasan harus membangun sistem yang lebih terhubung dan tangguh,”
ujar Kanda dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin 4 Mei 2026.
Program US$70 miliar itu dibagi dalam dua fokus utama, yaitu:
- Pertama, ADB menyiapkan US$50 miliar untuk membangun Pan-Asia Power Grid atau jaringan listrik lintas negara di Asia. Proyek ini bertujuan mengintegrasikan energi terbarukan antarnegara, memperkuat keamanan energi, serta menekan emisi karbon.
- Kedua, ADB mengalokasikan US$20 miliar untuk memperluas konektivitas digital lintas batas, termasuk pembangunan infrastruktur digital dan pengurangan kesenjangan akses teknologi di kawasan.
Langkah ini dinilai penting karena dampak krisis global kini menyebar cepat melalui pasar energi, rantai pasok, hingga jaringan digital, dengan kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak.

Salurkan Dana US$29,3 Miliar Sepanjang 2025
Sepanjang 2025, ADB tercatat telah menyalurkan dukungan keuangan sebesar US$29,3 miliar untuk negara-negara Asia Pasifik. Kini, lembaga tersebut mempercepat reformasi internal agar penyaluran bantuan bisa dilakukan lebih cepat dan dalam skala lebih besar.
Selain itu, ADB juga menjadi salah satu lembaga pembangunan pertama yang menawarkan dukungan keuangan darurat bagi negara-negara terdampak konflik di Timur Tengah.
ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik berkembang melambat menjadi 4,7 persen pada 2026, turun dari 5,4 persen tahun sebelumnya. Sementara inflasi diperkirakan naik ke level 5,2 persen, dipicu lonjakan harga energi dan pengetatan kondisi keuangan global.
Skenario Terburuk ke Ekonomi Dunia
Bahkan dalam skenario terburuk, apabila konflik global kembali memanas dan harga minyak melonjak tajam pada Mei 2026, pertumbuhan ekonomi kawasan diperkirakan turun lebih dalam menjadi 4,2 persen, sementara inflasi bisa melonjak hingga 7,4 persen.
Kanda menegaskan, ADB akan mengambil peran sebagai “penopang stabilitas” kawasan melalui pendanaan, konsultasi kebijakan, serta mobilisasi investasi swasta.
Tugas ke depan sangat berat, tetapi strategi, sumber daya, dan tekad kolektif sudah kami miliki,”
tegasnya.


