Upaya Partai Nasdem yang menginisiasi blok politik dengan Partai Gerindra dinilai sebagai manuver yang tidak mudah diikuti partai-partai lain.
Pengamat Politik dari Citra Institute Efriza berpendapat, partai lain memiliki daya tawar politik yang berbeda dan enggan dicap sebagai pengekor, maka strategi blok politik bakal dihindari oleh mereka.
Jelas yang berani mengambil (inisiatif) adalah Partai Nasdem. Partai lain, kalau dia mau membangun kesepakatan lebih dulu dengan Gerindra, yang terjadi mereka akan dianggap mengekor, mengikuti Nasdem,”
kata Efriza kepada owrite.id, Rabu, 15 April 2026.
Manuver yang dimainkan oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, sebenarnya lahir dari keterbatasan dan dinamika internal partai tersebut pada awal pemerintahan baru.
Efriza berujar, partai besar lebih berhati-hati dan sadar kapasitas masing-masing. Bila partai lain juga terburu-buru bersepakat membangun blok politik dengan Gerindra, maka bakal dianggap pragmatis dan kehilangan independensinya.
Contohnya, Partai Golkar–yang menduduki peringkat kedua pada Pemilu–diprediksi tak mau terjebak strategi Nasdem. Sebab, akan membuat partai berlambang pohon beringin itu terkesan sebagai partai lemah dan haus kekuasaan. Begitu pula dengan partai besar lainnya.
Perjuangan-perjuangan mereka tidak akan seberani Nasdem. Karena mereka sangat pragmatis dan lebih mencari bagaimana kondisinya ke depan. Jadi, mereka tidak serta-merta mau langsung (skenario blok politik),”
terang Efriza.
Bila blok politik dibangun bersama-sama saat ini, maka yang terjadi adalah koalisi sebelum Pemilu. Bahkan bisa muncul narasi aklamasi alias satu calon saja dalam kontestasi lima tahunan tersebut.
Kalau itu yang terjadi, sentimen negatif di masyarakat adalah masyarakat (partai-partai) mbalelo,”
ucapnya.
Meski manuver ini seolah membuat Nasdem memiliki pemikiran politik yang maju, Efriza menilai ada alasan rasional di balik itu, yakni Nasdem tengah bertahan dari kondisi internalnya seperti tiada perwakilan kader Nasdem dalam kabinet dan ada upaya pelemahan dari eksternal partai.
Bantah Merger
Ketua DPP Nasdem Willy Aditya, membantah wacana partainya dan Gerindra ingin bergabung. Penggunaan istilah “merger” ia anggap tidak tepat karena lebih relevan dalam dunia bisnis. Ia juga menyayangkan munculnya narasi penggabungan yang bisa menyesatkan opini publik.
Bapak Surya orang yang concern terhadap situasi politik. Referensi kami berpolitik itu political block,”
kata dia.
Konsep political block, menurut Willy, merupakan bentuk rekayasa politik yang bertujuan menciptakan kerja sama berbasis visi dan kebijakan, bukan sekadar transaksi politik jangka pendek. Ia menilai selama ini kerja sama antarpartai di Indonesia cenderung pragmatis dan minim arah strategis.


