United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menggelar upacara kehormatan atas gugurnya anggota TNI penjaga perdamaian, Kopral Rico Pramudia, Jumat, 24 April 2026. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, ia merupakan prajurit Indonesia keempat yang tewas dalam misi perdamaian dunia.
Kopral Rico, harus berjuang dengan luka beratnya akibat ledakan proyektil yang diduga milik Israel. Melansir situs resmi UNIFIL, Senin, 27 April 2026, upacara diadakan di Beirut dan berlangsung khidmat. Kepala Misi dan Komandan Pasukan Mayor Jenderal Diodato Abagnara memberikan penghormatan terakhirnya.
“Anda (Kopral Rico) datang ke sini, jauh dari rumah, untuk mengabdi di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk membawa perdamaian ke negeri ini. Di sini, di Lebanon selatan, Anda memberikan segalanya,”
kata Mayor Jenderal Abagnara.
“Anda memberikan semua yang Anda miliki untuk perdamaian di negeri ini. Untuk ini, Anda mendapatkan semua rasa hormat kami. Sebagai prajurit, sebagai penjaga perdamaian, kami meneruskan misi Anda. Kami akan tetap teguh, tetap bersatu, tetap waspada,”
lanjut dia.
Kopral Pramudia meninggalkan seorang istri dan seorang putra kecil. Ia tiba pada April 2025 untuk bertugas bersama UNIFIL, itu adalah misi luar negeri pertamanya.
Upacara di Beirut juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Lebanon Dicky Komar, perwakilan Kementerian Pertahanan Nasional Lebanon dan Angkatan Darat Lebanon Brigadir Jenderal Maroun Azzi, dan Kolonel Allan Surya Lesmana dari kontingen Indonesia UNIFIL.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan resolusi Dewan Keamanan 1701, serta dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
“Serangan tersebut harus segera diselidiki dan mereka yang bertanggung jawab harus dituntut dan dimintai pertanggungjawaban,”
jelas UNIFIL.


