Linda, seorang ibu yang anaknya didiagnosa tunarungu sejak kecil, awalnya gak pernah menyangka ada gangguan pendengaran di balik tumbuh kembang anaknya. Semuanya terlihat normal. Tidak ada tanda yang langsung bikin curiga. Proses kehamilan pun berjalan seperti biasa, lahir normal, dan tumbuh kembang awalnya pun nggak menunjukkan hal yang terasa berbeda. Sampai akhirnya, saat usia dua tahun, ada satu momen kecil yang bikin Linda sadar kalau anaknya tidak merespons suara seperti anak lain pada umumnya.
Tunarungu adalah kondisi ketika seseorang mengalami hambatan pendengaran, baik sebagian maupun total, yang bikin respons terhadap suara jadi berbeda dari orang pada umumnya. Pada anak, kondisi ini sering kali gak langsung disadari karena tandanya bisa muncul dari hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, persis seperti yang dialami Linda.
Anaknya dipanggil, tapi gak menoleh. Dikira lagi fokus, lagi asik sendiri, atau cuma telat respon seperti anak kecil pada umumnya. Tapi makin lama, hal-hal kecil itu mulai terasa janggal. Dipanggil berkali-kali tetap gak noleh. Suara motor besar nyala pun gak langsung bikin respons.
Dari situ, Linda mulai curiga. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan, sampai akhirnya hasil itu keluar. Anak Linda didiagnosa mengalami gangguan pendengaran dan harus memakai alat bantu dengar.
Satu kalimat yang langsung mengubah semuanya. Buat Linda, momen itu bukan cuma soal menerima hasil diagnosa. Tapi juga soal menerima kenyataan bahwa hidup setelah ini gak akan berjalan seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Ada rasa sedih, merasa bersalah, hingga penyesalan yang datang belakangan dan gak berhenti mutar di kepala. Tapi di titik itu juga, Linda sadar satu hal, setelah tangis selesai, hidup tetap harus jalan.
Dan sejak saat itu, perjuangannya benar-benar dimulai. Bukan cuma soal terapi. Bukan cuma soal alat bantu dengar. Tapi soal bagaimana membesarkan anak dengan kebutuhan khusus di dunia yang belum tentu selalu siap menerima mereka.
Linda harus mulai semuanya dari awal, dari memahami kondisi anaknya sampai mencari sekolah yang tepat, hingga akhirnya memilih SLB-B Santi Rama Jakarta sebagai tempat anaknya belajar. Di saat yang sama, Linda juga harus belajar menerima kalau jalan tumbuh kembang anaknya memang nggak akan sama seperti anak-anak lain. Salah satu keputusan paling berat yang akhirnya harus diambil adalah berhenti kerja demi bisa mendampingi anaknya sepenuhnya.
Saat itu Linda sedang bekerja di hotel dan bahkan ada peluang untuk naik posisi. Tapi di saat yang sama, anaknya butuh pendampingan penuh. Butuh diantar sekolah, butuh terapi, butuh perhatian ekstra yang gak bisa ditunda. Akhirnya Linda memilih mundur. Bukan karena menyerah, tapi karena ada hal yang harus diprioritaskan.
Dari situ, hidup Linda berubah total. Waktunya bukan lagi soal kerja dan pulang. Tapi soal antar sekolah, dampingi terapi, ngajarin anak pelan-pelan buat mandiri, dan memastikan anaknya tetap tumbuh dengan percaya diri. Perjalanannya jelas gak mudah.
Selain harus menghadapi realita, Linda juga harus berdamai dengan rasa takut, takut anaknya dibully, takut dipandang berbeda, takut nanti susah dapat sekolah, takut nanti susah dapat kerja, dan segala ketakutan menghantui Linda.
Makanya buat Linda, perjuangan setelah diagnosis itu bukan cuma soal alat bantu dengar, tapi juga soal menemani anaknya tumbuh dengan percaya diri dan mandiri. Jalannya jelas nggak mudah, tapi justru di situ letak perjuangan besarnya. Buat yang mau lihat cerita lengkap Linda dan anaknya, tonton selengkapnya di sini https://youtu.be/FJyM9XvJW10?si=CL5FXI4A08PI3Asj
