Di tengah sorotan publik yang semakin tajam, ucapan para pejabat kini tak lagi sekadar pernyataan, melainkan bisa langsung memicu polemik luas. Sejumlah pernyataan yang dinilai kurang sensitif, tidak tepat sasaran, hingga minim empati kerap viral dan menuai kritik keras dari masyarakat.
Di ruang digital, istilah “asbun” (asal bunyi) pun mencuat sebagai bentuk sindiran terhadap komentar pejabat yang dianggap jauh dari realitas di lapangan. Berikut rangkuman sejumlah pernyataan kontroversial beserta konteks kejadiannya.
1. Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM)
Nama Bahlil sering jadi trending topik di media sosial, hal ini terjadi karena banyak pernyataan-pernyataan beliau yang dinilai kontroversial. Salah satunya pernyataan di bulan Oktober 2025 yang menyebut “Orang yang menolak korupsi pasti belum pernah korupsi”. Pernyataan ini dianggap ambigu, karena seolah-olah menormalisasikan korupsi.
Pernyataan kontroversial Bahlil bukanlah kali pertama terjadi, sebelumnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada 6 Februari 2023, Bahlil (saat itu menjabat sebagai Menteri Investasi) membandingkan etos kerja tenaga kerja lokal dengan asing. Ia menyebut tenaga kerja lokal “rata-rata” masih suka istirahat sholat, makan lama, merokok, dan cerita-cerita sehingga kurang produktif untuk perusahaan multinasional.
2. Zulkifli Hasan (Menko Pangan)
Sejumlah pernyataan Zulhas beberapa kali memicu kontroversi di ruang publik. Seperti yang terjadi pada Desember 2023 di acara Rakornas APPSI di Semarang, ia melontarkan guyonan jika bacaan sholat “amin” setelah Al-fatihah banyak orang memilih diam dan gerakan jari saat tahiyat akhir berubah jadi dua jari.
Zulhas juga jadi sorotan saat terjadi kasus keracunan massal siswa karena Makan Siang Gratis (MBG), pada 21 Agustus 2025 ia menyatakan bahwa anak-anak keracunan karena “belum terbiasa” dengan makanan baru, bahkan menganalogikan dengan pengalaman masa kecilnya. Pernyataan ini menuai amarah publik yang menilai kurangnya empati terhadap keselamatan anak.
3. Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan)
Purbaya yang saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan dikenal dengan gaya komunikasi ceplas-ceplos atau “koboi”, sering menuai kritik karena dianggap kurang empati, bluner, atau terlalu blak-blakan. Seperti saat baru dilantik, Purbaya langsung kontroversial setelah merespon gerakan 17+8 tuntutan rakyat.
ia menyebut bahwa sebagai “suara sebagian kecil rakyat kita” yang “mungkin sebagian merasa terganggu hidupnya masih kurang”. Pernyataannya ini dikritik tajam, dianggap tidak empati terhadap keresahan ekonomi masyarakat, meski kemudian ia meminta maaf ke publik.
4. Arifatul Choiri Fauzi (menteri PPPA)
Pada 28 April 2026, pasca kecelakaan kereta di Stasiun bekasi Timur (27 April 2026) yang menewaskan dan melukai puluhan orang (mayoritas perempuan), Arifah fauzi mengusulkan agar gerbong khusus perempuan di KRL dipindahkan ke tengah rangkaian, sementara gerbang depan dan belakang untuk laki-laki, karena dianggap lebih berisiko.
Pernyataan ini dianggap kurang empati di tengah duka dan dipertanyakan relevansinya secara umum. Meskipun, kemudian ia mengakui bahwa perbuatannya tersebut “kurang tepat”.
5. Letjen TNI Suharyanto (Kepala BNPB)
Kepala badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto juga mendapat kritik dalam menangani bencana banjir dan longsor di Sumatera. Pernyataannya yang menyebut kondisi bencana tidak berstatus nasional karena kategori daerah/provinsi, serta klaim bahwa bencana banjir tersebut “hanya mencekam di medsos”.
Atas pernyataannya tersebut, Suharyanto dianggap kurang empati terhadap korban. Ia kemudian meminta maaf ke publik.
6. Raja Juli Antoni (Kementerian Kehutanan)
Menteri Kehutanan, Raja Juli antoni menuai kritik terkait respon banjir dan tanah longsor di Sumatera. Kemenhut disebut asbun setelah menjelaskan bahwa gelondongan kayu yang terbawa arus banjir berasal dari pohon tumbang alami bukan dari penebangan liar.
Pernyataannya ini dianggap kontradiktif dengan fakta dilapangan. Kontroversi lain termasuk foto dirinya bermain domino dengan tersangka pembalakan liar, serta tudingan lemahnya penegakan hukum di kawasan hutan.
7. Hasan Nasbi (Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan)
Pada 19 Maret 2025, kantor redaksi Tempo menerima kiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga yang ditujukan kepada jurnalis Francisca Christy Rosan (Cica). Insiden ini dianggap sebagai bentuk teror terhadap jurnalis dan kebebasan pers.
Dua hari kemudian, tepatnya 21 maret 2025 Hasan Hasbi merespon kejadian ini dengan santai, ia menyuruh memasak saja kepala babi kiriman tersebut. Pernyataan ini viral dan menuai kritik keras karena dianggap menyepelekan ancaman teror kepada media.
Itulah beberapa pernyataan-pernyataan pejabat yang viral di media sosial karena dianggap kurang berempati, defensif, atau tidak sesuai fakta lapangan. Walaupun pejabat sering berdalih bahwa ucapan mereka diambil di luar konteks atau dimaknai berlebihan.

