Lebih dari 300 keluarga di Filipina dievakuasi pada 4 Mei 2025, setelah Gunung Mayon mengeluarkan hujan abu tebal selama dua hari berturut-turut. Hal itu disebabkan oleh runtuhnya endapan lava dari lereng gunung berapi.
Direktur Institut Vulkanologi dan Sismologi Filipina, Teresito Bacolcol, mengatakan tidak terjadi letusan eksplosif dari gunung tersebut, meski aktivitas vulkanik ringan telah berlangsung sejak Januari lalu. Namun, endapan lava di lereng gunung berpotensi memicu aliran piroklastis atau longsoran batu panas, abu, dan gas. Selain itu, material lava dalam jumlah besar di bagian barat daya tiba-tiba meluncur pada Sabtu malam, 1 Mei 2026, yang kemudian membentuk aliran piroklastis.
Bacolcol juga mengungkapkan, meski tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka, abu vulkanik ini berdampak cukup besar. Tercatat setidaknya 87 desa di tiga wilayah melaporkan gangguan jarak pandang yang memperlambat lalu lintas kendaraan di sejumlah ruas jalan.
Sementara itu, Wali Kota Camalig, Caloy Baldo, menyebut ketebalan abu vulkanik membuat jarak pandang nyaris nol, bahkan di jalan utama sekalipun.
“Abu vulkaniknya sangat tebal dan jarak pandang nol bahkan di jalan nasional kami,”
ujar Caloy kepada Associated Press.
Ia mengakui kondisi tersebut sempat membuat sebagian warga panik. Namun, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas.
“Beberapa penduduk desa panik, tetapi kami menasihati mereka untuk tenang,”
lanjutnya, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Selain mengganggu mobilitas, hujan abu ini juga berdampak pada sektor pertanian. Sejumlah ladang sayuran dilaporkan rusak, sementara empat kerbau dan satu sapi ditemukan mati akibat terdampak abu vulkanik.
Saat ini, pemerintah tengah melakukan pembersihan di wilayah Camalig yang memiliki sekitar 8.000 penduduk di Provinsi Albay. Bacolcol menyatakan kondisi gunung saat ini relatif stabil, namun masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi bahaya.
“Sekarang sudah tenang lagi, tetapi bahaya selalu ada,”
kata Bacolcol pada Senin, 4 Mei 2026.
Gunung berapi setinggi 2.462 meter ini dikenal sebagai salah satu yang paling aktif di Filipina, sekaligus destinasi wisata populer karena bentuk kerucutnya yang hampir sempurna.
Sejak Januari, otoritas setempat telah menetapkan status siaga Level 3 untuk Gunung Mayon, menyusul aktivitas vulkanik seperti letusan kecil, guguran material dari kawah, dan aliran piroklastis. Sementara itu, Level 5 menandakan letusan eksplosif yang sedang berlangsung dan berpotensi mengancam jiwa, disertai lava mematikan, aliran piroklastis, serta hujan abu tebal.





