Ratusan orang berkumpul di Washington Square Park, New York, untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) dengan aksi demonstrasi.
Mereka menyuarakan penolakan terhadap dominasi perusahaan besar serta menuntut perlindungan dan hak yang lebih baik bagi para pekerja.
Seorang demonstran Maria Silva mengatakan bahwa sistem saat ini tidak berpihak pada sebagian besar masyarakat.
Sistem ini tidak berfungsi untuk 99,9 persen orang,”
ungkapnya.
Selain itu, Maria yang merupakan anggota serikat pekerja, menilai bahwa perusahaan besar dan para miliarder telah mengambil keuntungan dari para pekerja.
Ia menegaskan bahwa momen ini menjadi kesempatan bagi buruh untuk menunjukkan kekuatan mereka.
Saya merasa bahwa perusahaan-perusahaan, para miliarder, dan juga para pengusaha telah memanfaatkan kami. Dan ini adalah hari kita untuk membuktikan kepada mereka bahwa kita, sebagai serikat pekerja, memang memiliki kekuatan,”
tegasnya.
Aksi ini menjadi salah satu yang terbesar di antara sejumlah demonstrasi May Day yang digelar di berbagai titik di New York.
Bahkan, beberapa peserta sempat ditangkap saat memblokir pintu masuk Bursa Saham New York.
Di lokasi lain, lebih dari 100 orang melakukan pawai di sepanjang Fifth Avenue menuju kantor Amazon.
Salah satu pekerja Amazon, Matt Multari, mengatakan bahwa sejak tahun 1980-an, peran serikat pekerja terus melemah sehingga kesempatan masyarakat biasa untuk berkembang juga semakin kecil.
Sejak tahun 80-an, telah terjadi pembongkaran sistematis terhadap serikat pekerja, terhadap lembaga-lembaga, baik itu milik negara maupun swasta, yang memberikan kesempatan bagi orang biasa untuk naik pangkat,”
katanya.
Aksi tahun ini juga berlangsung setelah terpilihnya walikota baru yang berhaluan sosialis demokrat. Ia bahkan menyampaikan dukungannya kepada para demonstran melalui sebuah video, sambil mengakui masih banyak hal yang perlu diperjuangkan.
Isu utama dalam aksi ini adalah tuntutan agar orang-orang kaya dikenakan pajak lebih tinggi, termasuk bagi mereka yang memiliki rumah mewah kedua di New York.
Para demonstran merasa saat ini adalah momentum yang tepat untuk mendorong perubahan.
Sultana Hossain, mantan pekerja Amazon, menyebut bahwa gerakan buruh semakin kuat karena semakin banyak orang sadar bahwa mereka memiliki kekuatan untuk memperjuangkan haknya.
Maksud saya, saya benar-benar percaya gerakan kita semakin berkembang setiap hari. Dan itu membuat saya merasa senang karena orang-orang menyadari bahwa kita memiliki kekuatan, orang-orang biasa. Kita punya kekuatan. Kita bisa berdiri tegak, kita bisa melawan, dan kita bisa melakukan sesuatu tentang ini,”
terangnya.
Menurut penyelenggara May Day Strong NYC dan kelompok buruh termasuk New York Immigration Coalition dan AFL-CIO, aksi ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pekerja, mahasiswa, imigran, hingga keluarga.
Mereka mengusung tema “Pekerja Lebih Penting dari Miliarder” dan menuntut upah yang layak, kondisi kerja yang lebih baik, serta perlindungan yang lebih kuat.
Selain itu, isu lain yang diangkat dalam aksi ini mencakup ketimpangan ekonomi, kebijakan imigrasi, hingga konflik global.
Sebagai informasi, Hari Buruh Internasional atau May Day diperingati setiap 1 Mei dan menjadi simbol perjuangan pekerja di seluruh dunia.




