Baru-baru ini, viral di media sosial seorang mantan pegawai pabrik sosis yang memberikan pengakuan mengejutkan tentang proses pembuatan makanan cepat saji tersebut.
Pengalaman itu membuatnya enggan membeli dan mengonsumsi sosis.
Melalui unggahannya di Threads, pemilik akun bernama Jatu Maranatha Fimaputra bercerita bahwa ia sempat bekerja sebagai Quality Control (QC) sekitar enam bulan lalu.
Selama bekerja, ia mengaku menjadi saksi bagaimana bahan sisa diolah menjadi produk yang terlihat premium.
Jangan terlalu idealis,”
kata seniornya saat ia mempertanyakan bahan baku yang tampak pucat dan beraroma tajam, seperti dikutip dari Threads @fima.maranatha, Senin, 4 Mei 2026.
Sejak saat itu, Fima mengaku baru mengetahui bahwa olahan sosis menggunakan MRM (Mechanically Recovered Meat), yakni daging yang tersisa di tulang dan dipisahkan menggunakan tekanan tinggi hingga berbentuk pasta.
Itulah bahan utama sosis ekonomis yang sering kita beli. Bukan potongan daging utuh, tapi sisa-sisaan,”
jelasnya.
Fima juga menjelaskan alasan sosis memiliki tekstur kenyal. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi oleh penggunaan bahan tambahan pangan.
Ia menyebut penggunaan fosfat sebagai pengenyal serta tambahan tepung tapioka dalam jumlah besar untuk meningkatkan volume produk.
Biar adonan bisa padat dan terasa crunchy. Kita sebenarnya makan tepung rasa daging, bukan serat daging utuh,”
tambahnya.
Selain itu, ia juga mengungkap bahwa warna asli adonan sosis cenderung pucat. Untuk membuatnya tampak lebih menarik, ditambahkan nitrit agar warna tetap merah muda meski disimpan dalam waktu lama.
Fima mengaku sempat menemukan kejanggalan dalam proses produksi. Ia menyebut pernah memberikan catatan penolakan terhadap bahan baku yang tidak memenuhi standar, namun tetap diproses oleh pihak manajemen.
Ada satu batch bahan baku yang suhunya sudah melewati batas dan aromanya tidak normal. Saya tulis di laporan: reject, jangan dipakai. Namun keesokan harinya tetap diproses,”
ujarnya.
Menurutnya, bahan tersebut tetap digunakan dengan penyesuaian seperti penambahan bumbu dan perisa untuk menutupi aroma.
Pengalaman itu yang kemudian membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Ia juga mengaku prihatin melihat banyak orang tua yang membeli sosis sebagai bekal anak karena dianggap praktis. Menurutnya, konsumen perlu lebih bijak dalam memilih produk olahan.
Kita bayar mahal untuk kemasan menarik, padahal isinya tidak selalu seperti yang dibayangkan,”
ucapnya.
Sejak resign, Fima mengaku jarang mengonsumsi sosis pabrikan. Ia mengatakan pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap makanan instan.
Ternyata kenyamanan instan itu ada harganya, terutama untuk kesehatan jangka panjang,”
tandasnya.



