Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara year on year (yoy). Namun, besarnya pertumbuhan ekonomi ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan ekonomi yang merata di lapangan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman mengatakan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama 2026 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy memang terlihat kuat secara angka, tetapi jika dilihat lebih dalam, kondisinya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan ekonomi yang merata di lapangan,”
ujar Rizal saat dihubungi Owrite.id Rabu, 6 Mei 2026.
Rizal menuturkan, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh sebesar 5,52 persen, dan lonjakan belanja pemerintah sekitar 21,8 persen secara yoy. Sedangkan tekanan terhadap daya beli, pelemahan rupiah, dan perlambatan sektor manufaktur dinilai masih terjadi.
Artinya, pertumbuhan yang tinggi ini lebih banyak didorong faktor musiman seperti Lebaran, stimulus pemerintah, dan percepatan belanja negara, sehingga sifatnya cenderung sementara (temporary boost), bukan akselerasi struktural yang benar-benar kuat,”
jelasnya.
Kontribusi MBG dan KDMP Terbatas
Adapun sejumlah program strategis Pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Kontribusinya disumbang melalui konsumsi pemerintah, distribusi pangan, dan aktivitas ekonomi lokal.
Namun, secara riil kontribusinya terhadap total pertumbuhan ekonomi masih relatif terbatas dibanding sektor produktif utama seperti konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, perdagangan, dan investasi (PMTB) yang tumbuh 5,96 persen,”
jelasnya.
Rizal menilai, kontribusi Program MBG dan KDMP hanya berfungsi sebagai stimulus jangka pendek, dan penyangga sosial dibanding motor utama pertumbuhan.
Tantangannya adalah memastikan program tersebut tidak hanya mendorong belanja, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang lebih besar terhadap produksi domestik, lapangan kerja, dan produktivitas ekonomi dalam jangka panjang,”
katanya.
Risiko Fiskal Mengkhawatirkan
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga, momentum Ramadan dan Idul Fitri, serta lonjakan belanja pemerintah.
Ronny menyoroti, defisit APBN per Maret 2026 yang tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menilai, ketimpangan antara pertumbuhan belanja 31,4 persen, dan pertumbuhan pendapatan negara yang hanya 10,5 persen yoy menciptakan risiko fiskal yang mengkhawatirkan.
Ronny mengatakan, program MBG telah menyerap Rp70,2 triliun untuk 61,96 juta penerima manfaat, menjadi kontributor utama dalam lonjakan belanja ini. Menurutnya, MBG hanya akan menciptakan multiplier effect rendah dibandingkan belanja lainnya.
Dari perspektif ekonomi makro, belanja pemerintah yang bersifat konsumtif memiliki multiplier effect yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan belanja modal atau investasi infrastruktur,”
katanya.


