Usai ramai kasus hantavirus, banyak masyarakat yang merasa khawatir bila harus bepergian ke wilayah terdampak. Apakah perlu adanya pembatasan perjalanan internasional?
Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menjelaskan secara bukti ilmiah, tidak ada rekomendasi untuk pembatasan perjalanan.
Sebab hantavirus bukan penyakit dengan transmisi antar manusia, sehingga penularannya sangat kecil.
Hantavirus juga tidak memenuhi kriteria transmisi atau penularan antara manusia ke manusia secara sustain dan itu artinya kecil peluang untuk masuk kategori (penyakit) yang harus dibatasi (perjalanan/aktivitas),”
ujar Dicky dalam keterangannya, Senin, 11 Mei 2026.
Dicky mengatakan tingkat penyebaran virus ini melalui udara juga sangat rendahnya, artinya berpotensi meluas hingga lintas negara juga sangat kecil.
Saya tegaskan lagi, hantavirus tidak ada sustain human to human transmission, tidak juga airborne yang tinggi dan juga tidak terjadi penyebaran lintas negara yang cepat, artinya pembatasan perjalanan tidak proporsional dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan tanpa manfaat kesehatan,”
tuturnya.
Dicky melanjutkan secara klinis fatalitas atau kematian dari terpaparnya virus ini cukup tinggi, yakni mencapai 40 persen, artinya, empat dari 10 pasien akan meninggal jika mengalami gagal nafas.
Tapi tetap berbeda dengan Covid-19 atau influenza, hantavirus tidak berpotensi pandemi atau ancaman global karena reservoirnya terbatas, harus ada rodentnya, tikus,”
ucapnya.
Upaya Mengurangi Risiko Hantavirus
Meski demikian, perlu adanya mitigasi di pelabuhan dan di kapal-kapal, dengan surveilans dan screening riwayat perjalanan dari negara terdampak, misalnya Argentina.
Selain itu, bila mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sesak nafas akut, juga perlu ada protokol klinis awal.
Isolasi kasus suspeknya, dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas ICU dan juga harus dipastikan ada differential diagnosisnya, jadi diagnosa banding supaya tidak salah diagnosisnya, jadi jangan langsung menjudge orang dengan demam, nyari otot, sesak nafas akut tidak, apalagi dia tidak ada riwayat perjalanan dari Argentina misalnya,”
tandasnya.

