Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mewaspadai potensi kenaikan harga avtur terhadap industri penerbangan nasional di tengah gejolak geopolitik global.
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran mengatakan kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) berpotensi meningkatkan biaya perjalanan udara di Indonesia.
Menurutnya, dampak tersebut diperkirakan mulai terasa pada kuartal II 2026.
Avtur itu berdampak ke peningkatan harga tiket pesawat. Di kuartal satu kita belum merasakan itu, di kuartal dua kita akan menghadapi hal-hal seperti itu,”
ungkap Yusran.
Ia menilai kondisi tersebut sejalan dengan yang terjadi di sejumlah negara lain, termasuk Eropa yang mulai mengalami gangguan operasional penerbangan akibat tekanan biaya.
Indikasi Pembatalan Penerbangan
Meski demikian, PHRI belum melihat adanya indikasi pembatalan penerbangan besar-besaran di Indonesia seperti yang terjadi di luar negeri.
Menurut Maulana, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat dan memastikan biaya perjalanan domestik tetap terjangkau.
Ia menegaskan transportasi udara memiliki peran penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat bergantung pada penerbangan untuk mobilitas masyarakat.
Kalau avtur naik tentu berpengaruh kepada transportasi udara, sementara pesawat terbang itu andalan pergerakan masyarakat di Indonesia,”
tuturnya.
PHRI juga mendorong pemerintah memperkuat promosi wisata ke negara-negara Asia yang akses penerbangannya tidak terdampak konflik Timur Tengah guna menjaga jumlah wisatawan mancanegara tetap meningkat.





