Pernah nggak sih, ada sesuatu yang sebenarnya bukan salah kamu tapi entah kenapa kamu tetap merasa guilty?
Orang lain berubah sikap sedikit aja, kamu langsung mikir “gue salah ngomong ya?”. Ada teman bad mood, kamu merasa jadi penyebabnya. Bahkan saat disakitin orang lain pun, kamu masih sibuk nyari salah di diri sendiri.
Kalau relate sama ini, bisa jadi kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri tanpa sadar.
Kamu Minta Maaf Bahkan untuk Hal-Hal Kecil
Salah satu tanda paling umum adalah terlalu sering bilang maaf. Bahkan untuk hal yang sebenarnya nggak perlu minta maaf.
Contohnya minta maaf karena cerita terlalu banyak, minta maaf karena butuh bantuan, minta maaf karena punya perasaan sendiri, atau minta maaf hanya karena takut merepotkan orang lain.
Dilansir dari Psychology Today (2023), kebiasaan over-apologizing sering muncul dari rasa takut ditolak, fear of conflict, atau kebutuhan untuk menjaga orang lain tetap nyaman.
Akhirnya seseorang jadi terbiasa merasa dirinya “masalah” bahkan ketika tidak melakukan kesalahan besar.
Kamu Selalu Menganggap Emosi Orang Lain Tanggung Jawab Kamu
Saat orang lain marah, kecewa, atau menjauh, kamu langsung merasa harus memperbaiki semuanya. Padahal belum tentu itu salah kamu.
Tapi entah kenapa kamu selalu merasa “gue harus bikin semuanya balik baik-baik aja.”
Dikutip dari buku Codependent No More karya Codependent No More oleh Melody Beattie (1986), orang yang terlalu terbiasa memikul emosi orang lain sering kehilangan batas sehat antara empati dan tanggung jawab pribadi.
Mereka jadi merasa harus menjaga semua orang tetap bahagia agar dirinya merasa aman.
Kamu Sulit Marah ke Orang Lain, Tapi Gampang Nyalahin Diri Sendiri
Banyak orang yang terlalu self-blaming sebenarnya bukan nggak punya rasa kecewa. Mereka cuma terbiasa mengarahkan semuanya ke diri sendiri.
Jadi saat disakiti, respons pertamanya bukan “dia salah.” Tapi “apa gue yang kurang baik ya?”
Dilansir dari Verywell Mind (2024), self-blame yang berlebihan bisa membuat seseorang mengalami kecemasan, overthinking, dan self-esteem yang rendah karena terus merasa bertanggung jawab atas hal-hal di luar kendalinya.
Kamu Takut Mengecewakan Orang
Kamu sering merasa harus selalu ada, selalu mengerti, selalu jadi “baik,” dan selalu menjaga hubungan tetap aman.
Karena jauh di dalam diri, kamu takut kalau mengecewakan orang mereka akan pergi. Makanya kamu jadi terlalu keras sama diri sendiri.
Dikutip dari penelitian di American Psychological Association (APA) oleh Brené Brown tentang shame dan vulnerability, rasa takut ditolak sering membuat seseorang terus-menerus mencari kesalahan pada dirinya sendiri demi mempertahankan hubungan sosial.
Kamu Jarang Memberi Empati ke Diri Sendiri
Ironisnya, orang yang paling pengertian ke orang lain sering jadi orang yang paling keras ke dirinya sendiri. Kamu bisa memahami semua orang, tapi saat giliran diri sendiri salah sedikit aja, kamu langsung menghukum diri habis-habisan.
Padahal manusia memang nggak mungkin selalu sempurna. Dilansir dari Harvard Health Publishing (2024), self-compassion atau kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut terbukti membantu menurunkan stres, rasa malu berlebihan, dan kecenderungan self-blame.
Kadang Kamu Nggak Salah, Kamu Cuma Terbiasa Merasa Bersalah
Dan mungkin itu yang paling capek. Karena lama-lama kamu jadi merasa semua hal buruk pasti ada hubungannya sama diri kamu.
Padahal kenyataannya nggak semua konflik adalah tanggung jawab kamu. nggak semua emosi orang lain harus kamu perbaiki. dan nggak semua hubungan gagal karena kamu kurang baik.
Kadang kamu bukan orang yang salah. Kamu cuma terlalu terbiasa menyalahkan diri sendiri supaya semua orang lain tetap nyaman.
Kalau kamu relate dengan ini jangan lupa follow instagram @sefruitmedia untuk konten lainnya yaa
