Tren membeli barang preloved branded semakin populer, terutama di kalangan Gen Z. Mulai dari tas, sepatu, pakaian, hingga jam tangan, banyak orang memilih berburu barang bekas bermerek di marketplace atau offline store karena harganya jauh lebih terjangkau dibanding membeli baru.
Tapi, apakah membeli barang preloved branded benar-benar lebih worth it daripada membeli barang baru?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal harga.
Menurut buku The Luxury Strategy: Break the Rules of Marketing to Build Luxury Brands (2012) karya Jean-Noël Kapferer dan Vincent Bastien, nilai sebuah barang mewah tidak hanya berasal dari fungsinya, tetapi juga kualitas material, daya tahan, serta nilai jangka panjangnya. Karena itulah, banyak produk luxury tetap memiliki nilai jual tinggi meski sudah digunakan.
Hal ini membuat barang preloved branded menjadi pilihan menarik bagi orang yang ingin mendapatkan kualitas premium tanpa harus membayar harga penuh.
Selain lebih hemat, membeli barang preloved juga dianggap lebih ramah lingkungan. Dalam buku Fashionopolis: The Price of Fast Fashion and the Future of Clothes (2019), jurnalis Dana Thomas menjelaskan bahwa memperpanjang umur pakaian melalui pasar barang bekas dapat membantu mengurangi limbah tekstil sekaligus menekan konsumsi produksi baru.
Artinya, membeli barang bekas berkualitas juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Namun, bukan berarti barang preloved selalu menjadi pilihan terbaik.
Salah satu tantangan terbesar adalah risiko mendapatkan produk palsu atau kondisi barang yang tidak sesuai dengan deskripsi.
Penelitian berjudul Consumer Behavior in Luxury Resale Markets oleh Irene Consiglio dan Rebecca Walker (2021) menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap penjual menjadi faktor utama dalam keputusan membeli barang mewah bekas secara online.
Karena itu, sebelum membeli, penting untuk memeriksa reputasi toko, meminta foto detail, mengecek bukti keaslian (authenticity), hingga membaca ulasan dari pembeli sebelumnya.
Di sisi lain, membeli barang baru tetap memiliki keunggulan tersendiri. Kamu akan mendapatkan garansi resmi, kondisi produk yang benar-benar baru, serta pengalaman membeli yang lebih aman dan minim risiko.
Kalau produk yang diincar bukan termasuk barang yang nilainya bertahan lama atau mudah rusak setelah dipakai, membeli versi baru justru bisa menjadi keputusan yang lebih masuk akal.
Jadi, mana yang lebih worth it?
Kalau tujuanmu adalah mendapatkan kualitas premium dengan harga yang lebih terjangkau dan kamu teliti saat memilih penjual, barang preloved branded bisa menjadi pilihan yang sangat menguntungkan.
Namun, kalau kamu lebih mengutamakan keamanan transaksi, garansi, dan ketenangan saat membeli, barang baru tetap menjadi opsi yang layak dipilih.
Pada akhirnya, keputusan terbaik bukan ditentukan oleh label “baru” atau “preloved”, melainkan apakah barang tersebut benar-benar sesuai kebutuhan, kondisi keuangan, dan memberikan nilai yang sepadan dengan uang yang kamu keluarkan.
Yuk, terus ikuti artikel menarik seputar gaya hidup, tren, dan tips sehari-hari dengan share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia ya!









