Absennya Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di Lapangan Upacara Kementerian Luar Negeri, Jakarta, terus memunculkan beragam tafsir politik.
Setelah muncul penjelasan dari ajudan, bahwa Jokowi tidak menerima undangan dari Istana, kini berkembang spekulasi lain yang mengaitkan ketidakhadiran tersebut dengan sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional.
Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai, spekulasi yang berkembang di masyarakat tidak bisa begitu saja diabaikan. Meski belum tentu benar, menurutnya tafsir tersebut memiliki dasar yang membuat publik terus mempertanyakannya.
Saya kira berdasar, tapi spekulasi kan belum tentu benar, namanya juga spekulasi tetapi sangat berdasar,”
kata Emrus saat dihubungi Owrite.id, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut dia, salah satu alasan mengapa spekulasi itu berkembang adalah karena banyak pihak mengaitkan kondisi ekonomi saat ini dengan kebijakan yang dijalankan selama dua periode pemerintahan Jokowi.
Kenapa saya katakan berdasar? Sebenarnya persoalan ekonomi itu dampak daripada pemerintahan Jokowi dalam 10 tahun terakhir,”
ujarnya.
Emrus menyoroti peningkatan utang negara dan maraknya kasus korupsi yang menurutnya menjadi bagian dari persoalan struktural ekonomi nasional.
Dampaknya apa? utang kita kan membengkak di masa pemerintahan beliau, lalu korupsi juga semarak. Artinya korupsi itu bagian dari perusak ekonomi kan. Kita lihat satu contoh, dugaan megakorupsi di Pertamina hampir Rp 1000 triliun dan korupsi-korupsi lainnya,”
paparnya.
Karena itu, ia menilai jika ada pihak yang menghubungkan ketidakhadiran Jokowi dengan keengganan menghadapi pertanyaan mengenai kondisi ekonomi, spekulasi tersebut muncul dari persepsi publik terhadap warisan kebijakan ekonomi masa lalu.
Jadi artinya, jika ada orang yang berspekulasi seperti yang disampaikan soal menghindari pertanyaan terkait hancurnya ekonomi, saya kira sangat berdasar, karena pembangunan ekonomi kita masa Jokowi, ekonominya berbasis kepada utang,”
tegasnya.
Emrus berpendapat fondasi ekonomi akan jauh lebih kuat apabila bertumpu pada produktivitas nasional, peningkatan penerimaan negara, serta inovasi yang mampu menghasilkan nilai tambah.
Kalau produktivitas semua, misalnya hasil pajak, hasil ekspor, barang dan jasa, dan yang di ekspor itu adalah hasil inovasi, saya kira bangunan ekonomi kita akan kuat,”
jelasnya.
Namun, menurut pandangannya, pola pembangunan yang terlalu bergantung pada pembiayaan utang justru menciptakan kerentanan jangka panjang.
Tapi karena masa pemerintahan Jokowi pembangunan itu bersumber dari utang yang membengkak, maka bangunan ekonomi kita masa Jokowi rapuh. Akibatnya seperti yang kita tanggung saat ini,”
ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah menghadapi kewajiban pembayaran pokok utang dan bunga yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.
Dalam waktu dekat kita harus membayar pokok utang, angsuran pokok utang dan bunga yang akan segera jatuh tempuh. Bukankah kejadian ini akan membuat ekonomi kita tidak stabil?,”
ucapnya.
Menurut Emrus, salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Salah satu di antaranya nilai dolar bertengger tinggi, sementara rupiah kita hancur. Untuk itu, ekonomi masa pemerintahan Jokowi harus kita akui, suka tidak suka adalah bangunan ekonomi yang rapuh sehingga kondisi ekonomi kita saat ini semakin hancur,”
katanya.
Karena itu, ia menilai spekulasi yang berkembang mengenai alasan ketidakhadiran Jokowi tidak muncul tanpa sebab.
Dan semua ini terjadi sebagai bagian dari rapuhnya bangunan ekonomi masa pemerintahan Jokowi selama 10 tahun memimpin. Jadi wajar ada spekulasi dia tidak hadir di Upacara Hari Lahir Pancasila karena takut ditanya soal hal itu, yakni ekonomi yang hancur dan utang yang membengkak,”
pungkas Emrus.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi dari Jokowi yang mengaitkan ketidakhadirannya dengan isu ekonomi.
Penjelasan yang beredar dari pihak ajudan menyebut absennya mantan presiden tersebut karena tidak menerima undangan untuk menghadiri upacara kenegaraan tersebut.

