Pedagang warung tegal (warteg) mengeluhkan kenaikan sejumlah komoditas sayuran. Situasi ini memaksa para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini mengungkapkan kenaikan harga sayuran seperti cabai, bawang merah, tomat bersifat faktor musiman. Kenaikan ini disebabkan oleh penurunan produksi, hasil panen, dan peningkatan konsumsi masyarakat.
Jadi memang komoditas ini masuk ke kelompok harga barang yang bergejolak. Jadi ini bersifat musiman karena adanya hari besar keagamaan diantaranya ini menjadi salah satu pemicu adanya perubahan permintaan di masyarakat,”
ujar Pudji dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Selasa, 2 Juni 2026.
Produksi Cabai Alami Penurunan
Berdasarkan catatan BPS, produksi cabai merah di beberapa daerah sentra mengalami penurunan pada Mei 2026, dibandingkan April 2026. Penurunan produksi terjadi di Garut (Jawa Barat), Temanggung (Jawa Tengah), dan Malang (Jawa Timur).
Untuk bawang merah tercatat mengalami penurunan panen di sejumlah sentra produksi yakni Sampang (Jawa Timur), Enrekang (Sulawesi Selatan), Bojonegoro (Jawa Timur), Pati (Jawa Tengah), dan Demak (Jawa Tengah). Penurunan ini disebabkan oleh perubahan cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan kekeringan.
Pudji mengungkapkan, beberapa komoditas sayuran tercatat memberikan andil inflasi secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Hal ini diantaranya cabai merah sebesar 0,08 persen, bawang merah 0,04 persen, tomat 0,03 persen, sawi hijau 0,01 persen, serta cabai rawit dan timun masing-masing sebesar 0,01 persen.
Beberapa komunitas sayuran ini memberikan andil inflasi secara mtm pada Mei 2026 ya tadi diantaranya sudah disebutkan untuk cabai merah, bawang merah, kemudian tomat, sawi hijau, cabai rawit, timun,”
imbuhnya.

Pedagang Ngeluh Harga Bahan Baku Meroket
Sebelumnya, Inah, seorang pedagang nasi uduk di Kalideres, Jakarta Barat, mengatakan hampir seluruh harga bahan baku yang biasa ia gunakan naik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuat pengeluaran belanja harian membengkak.
Naik, semua harga pada naik. Cabe, bawang, kentang bisa Rp18 ribu per kilogram. Sekarang belanja enggak banyak, apa-apa juga mahal,”
katanya kepada Owrite.id.
Keluhan serupa disampaikan pedagang warteg, Tini, di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Ia mengatakan harga sayur matang yang sebelumnya masih bisa dibeli dengan Rp3.000, kini pembeli harus merogoh Rp5.000 per porsi.
Sekarang beli sayur lauk-pauk enggak dapet Rp3 ribu, semuanya minimal Rp5 ribu,”
kata Tini.
Tini juga menyorot tingginya harga cabai yang berdampak langsung pada biaya operasional warteg. Demi menekan pengeluaran, ia terpaksa mengurangi porsi cabai dalam sambal gratis untuk pelanggan.


