Bank Indonesia (BI) buka suara, terkait anjloknya nilai tukar rupiah di level terdalam pada hari ini. Pada perdagangan siang ini, rupiah melemah 0,62 persen ke level Rp17.949 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, otoritas moneter terus mencermati perkembangan yang kini sedang terjadi, dan memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,”
ujar Denny dalam keterangan resmi Rabu, 3 Juni 2026.
BI Optimalkan Intervensi dan Likuiditas Valas
Denny menyatakan, BI akan terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik.
Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,”
tegasnya.
Salah satu langkah yang sudah dilakukan BI, dengan memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan.
Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan,”
terangnya.

Dorong Transaksi Mata Uang Lokal
Di samping itu, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Hal ini merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,”
tuturnya.
BI menilai, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Sehingga, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, hingga pelaku pasar.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,”
imbuhnya.


