Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya menyebut perjalanan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto selama menjabat tidak sia-sia. Menurutnya selama satu setengah tahun total investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp2.430 triliun.
Prabowo selama masa jabatannya tercatat sudah 50 kali melakukan kunjungan ke luar negeri. Lawatan terakhir yang dilakukan oleh Kepala Negara ini ke Prancis pada Idul Adha 2026 kemarin.
Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun. Itu data dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),”
ujar Teddy dalam keterangan video dikutip Rabu, 3 Juni 2026.
Teddy mencontohkan, saat Prabowo melakukan kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan pada akhir Maret 2026, ada investasi yang masuk sebesar Rp575 triliun.
Contoh konkret lagi nih, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun,”
terangnya.
Data Sebenarnya
Adapun berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp1.931,2 triliun, dan kuartal I-2026 sebesar Rp498,8 triliun. Artinya bila ditotal, realisasi investasi memang mencapai Rp2.430 triliun.
Namun bila dirinci, realisasi investasi sepanjang 2025 mayoritas berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya sebesar Rp900,9 triliun atau 46,6 persen.
Lalu untuk negara asal investasi asing terbesar berasal dari Singapura sebesar US$17,4 miliar, diikuti Hong Kong sebesar US$10,6 miliar, China US$7,5 miliar, Malaysia US$4,5 miliar, dan Jepang sebesar US$3,1 miliar.
Sementara di kuartal I-2026, realisasi investasi terbesar memang berasal dari PMA, namun kontribusinya hanya berbeda tipis dibandingkan PMDN. Tercatat realisasi PMA sebesar Rp250 triliun atau 50,1 persen, sedangkan PMDN sebesar Rp248,8 triliun atau 49,9 persen.
Untuk lima negara asal PMA terbesar pada kuartal I-2026 masih ditempati oleh Singapura sebesar US$4,6 miliar, Hong Kong US$2,7 miliar, China US$2,2 miliar, Amerika Serikat (AS) US$1,3 miliar, dan Jepang US$1 miliar.
Memang kita lihat selama 10 tahun ini Singapura konsisten dari segi pencatatannya menjadi negara terbesar FDI ke Indonesia. Diikuti Hong Kong, Tiongkok negara lain-lainnya Korea Selatan, Malaysia, dan Belanda mengikuti di urutan berikutnya,”
ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani.

Meski demikian, bila dibandingkan dengan kuartal I-2024 atau masih di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Negara-negara tersebut memang ada di jajaran lima besar yang berinvestasi di Indonesia.
Berdasarkan data BKPM, Singapura berada di posisi pertama dengan realisasi investasi sebesar US$4,2 miliar, Hong Kong US$1,9 miliar, China US$1,9 miliar, AS US$1,1 miliar, dan Jepang US$1 miliar.
Baru Komitmen
Sementara itu berdasarkan catatan Owrite.id, terkait pernyataan Teddy yang mengatakan bahwa Prabowo membawa investasi sebesar Rp575 triliun usai melakukan kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan pada akhir Maret. Investasi tersebut merupakan komitmen yang ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MoU).
Saat itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan dalam pertemuan yang dihadiri Menteri Perdagangan Korea Yeo Han Koo, pemerintah RI berhasil menandatangani MoU senilai Rp173 triliun untuk sejumlah sektor.
Dalam pertemuan tersebut ditandatangani Memorandum of Understanding nilainya US$10,2 miliar atau Rp173 triliun,”
ujar Airlangga dalam keterangan pers melalui Youtube Sekretariat Presiden Kamis, 2 April 2026.

Sedangkan untuk kunjungan Prabowo ke Jepang komitmen investasi yang berhasil digenggam senilai US$23,6 miliar atau Rp401 triliun. Artinya bila ditotal, komitmen investasi yang berhasil diperoleh sebesar Rp574 triliun.
Artinya kunjungan Bapak Presiden kedua negara ini menghasilkan komitmen investasi sebesar Rp574 triliun. Dan ini sebuah angka yang sangat signifikan, karena Indonesia dalam situasi geopolitik yang tidak menentu ini masih menjadi daya tarik bagi para investor baik dari Jepang maupun Korea,”
kata Airlangga.


