Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Kamis, 4 Juni 2026 tercatat merosot sebesar Rp 15.000 per gram.
Mengutip dari data Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga pecahan satu gram emas Antam anjlok ke angka Rp 2.759.000 per gram dari perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga ikut merosot Rp 13.000 ke level Rp 2.571.000 per gram.
Adapun, emas Antam dijual dengan beragam ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Pilihan gramasi dari yang terkecil hingga terbesar ini memudahkan masyarakat untuk membeli emas sesuai kebutuhan.

Rincian harga emas batangan Antam, Kamis, Juni 2026.
- 0,5 gram: Rp 1.429.500
- 1 gram: Rp 2.759.000
- 2 gram: Rp 5.458.000
- 3 gram: Rp 8.162.000
- 5 gram: Rp 13.570.000
- 10 gram: Rp 27.085.000
- 25 gram: Rp 67.587.000
- 50 gram: Rp 135.095.000
- 100 gram: Rp 270.112.000
- 250 gram: Rp 675.015.000
- 500 gram: Rp 1.349.820.000
- 1.000 gram: Rp 2.699.600.000.
Perlu diketahui, untuk ukuran emas 0,5 gram, 1 gram, 2 gram, dan 3 gram pada hari ini sedang tidak tersedia di butik Pulo Gadung.
Emas Global

Sementara itu, harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Penurunan harga emas global terjadi karena inflasi akibat perang di Timur Tengah yang menyebabkan suku bunga tinggi.
Melansir CNBC, harga emas turun 1 persen menjadi US$4.440,27 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS juga turun 1,1 persen ke level US$4.468,60 per troy ounce.
Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger mengatakan aktivitas emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Seiring meningkatnya konflik, kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi inflasi.
Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suku bunga, yang selanjutnya akan memperkuat dolar dan menambah tekanan penurunan pada harga emas,”
kata Meger.
Emas batangan sering dianggap sebagai pengaman terhadap inflasi, tetapi cenderung menjadi kurang menarik sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Harga minyak naik, sementara indeks dolar AS naik untuk sesi ketiga berturut-turut. Mata uang AS yang lebih kuat membuat logam yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.



