Aktivis senior, Muhammad Said Didu melontarkan peringatan serius, terkait dinamika politik yang disebutnya sedang mengitari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pandangannya, ancaman terhadap posisi Presiden tidak selalu datang dari lawan politik di luar kekuasaan, melainkan bisa muncul dari lingkaran yang paling dekat dengan pusat pemerintahan.
Menurut Said Didu, kondisi politik saat ini berada pada fase yang sangat menentukan bagi masa depan pemerintahan Prabowo.
Sedang terjadi kondisi ‘to kill or to be killed’ Presiden @prabowo sedang dalam titik yang sangat krusial,”
tulis Said Didu di akun X pribadinya yang dikutip pada, Jumat, 5 Juni 2026.
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu mengklaim, terdapat sejumlah gerakan yang berpotensi melemahkan posisi Presiden dari dalam pemerintahan sendiri.
Meski tidak menyebut nama atau kelompok tertentu secara rinci, ia menilai tekanan tersebut berlangsung secara terstruktur.
Sedang terjadi : 1) pembusukan dari dalam, 2) serangan massif dan sistimatis dari Geng SOP, dan 3) gerakan ‘kudeta senyap’ politisi busuk kutu loncat,”
ungkapnya.
Said Didu menyoroti peran sejumlah figur di sekitar Presiden, yang dinilainya justru memperburuk citra kepala negara melalui berbagai pernyataan kontroversial di ruang publik. Menurut dia, cara komunikasi yang menyerang pihak lain justru berpotensi menimbulkan sentimen negatif terhadap Presiden.
Ordal Presiden @prabowo makin mempersulit posisi Presiden lewat pernyataan sangat amatir dg kata-kata menyerang dan merendahkan orang lain sehingga meningkatkan kebencian kpd Presiden,”
tegasnya.
Dalam pernyataannya, Said Didu juga melontarkan pertanyaan yang mengundang spekulasi politik mengenai kemungkinan adanya agenda tertentu di balik berbagai polemik yang muncul belakangan ini.
Apakah ini gerakan SOP?”
tanyanya.


