Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus memantik perdebatan politik. Di tengah kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi, kritikus politik Faizal Assegaf melontarkan tudingan keras.
Faizal menyoroti pelemahan rupiah bukan semata persoalan pasar. Tapi, menurut dia, ada dimensi politik yang lebih besar.
Menurut Faizal, tekanan terhadap dolar dan rupiah dapat dibaca sebagai pesan politik dari kelompok oligarki yang disebutnya tidak menginginkan Presiden Prabowo Subianto tetap kuat di tampuk kekuasaan.
Anggap itu tekanan dolar yang dipakai oleh oligarki adalah pesan kuat, dari kepentingan segelintir para rakus keuangan nasional ini yang ingin menggulingkan Presiden Prabowo,”
kata Faizal dalam podcast yang diunggah di akun X pribadinya yang dikutip, Senin, 8 Juni 2026.
Aktivis 98 itu menilai, setiap kenaikan dolar yang terus berlanjut bisa dimaknai sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.
Dalam pandangannya, ada kepentingan kelompok tertentu yang memanfaatkan gejolak ekonomi untuk membangun persepsi negatif terhadap Presiden.
Jadi, kalau dolar semakin naik, itu artinya oligarki mengirim pesan kepada rakyat. Kami mau menggulingkan Presiden Prabowo,”
tutur Faizal.
Faizal kemudian mengaitkan situasi saat ini dengan pengalaman politik Indonesia menjelang tumbangnya Presiden Soeharto pada 1998.
Dikatakan Faizal, tekanan ekonomi sering kali menjadi pintu masuk bagi perubahan politik yang lebih besar.
Secara politik, ya. Kenapa? Karena pada 1998, Soeharto dilakukan seperti itu. Soeharto diperlakukan seperti itu,”
jelasnya.
Ia menganggap gejolak ekonomi tidak selalu berdiri sendiri, melainkan bisa menjadi instrumen untuk menekan pemerintahan dan membentuk opini publik.


