Universitas Mercu Buana bersama Forum Fair Trade Indonesia (FFTI) menggelar Perayaan Hari Fair Trade Sedunia 2026, sebagai upaya memperkuat gerakan perdagangan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak kepada pelaku usaha kecil di tengah tekanan ekonomi global.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Rektorat Universitas Mercu Buana, pada pekan kemarin itu mempertemukan akademisi, pelaku usaha, organisasi internasional, pemerintah, investor, hingga komunitas UMKM dalam satu forum untuk membahas masa depan perdagangan yang lebih berkeadilan.
Ketua FFTI, Netty Febriana membuka rangkaian acara yang kemudian dilanjutkan oleh President World Fair Trade Organization (WFTO) Global Sophie Tack dan Wakil Rektor Universitas Mercu Buana Dr. Irmulansati Tomohardjo.
Seminar menghadirkan berbagai pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya Wakil Ketua FFTI Crissy Guerero, dosen Universitas Mercu Buana Arief Bowo Prayoga Kasmo, perwakilan WFTO Asia Mitos Urgel, Kementerian UMKM, Fair Trade Oxford University, PEKERTI, Kayu and Co, hingga Angel Investment Network Indonesia (ANGIN).
Berbagai pemateri menyoroti pentingnya perdagangan yang tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi produsen kecil, koperasi, UMKM, serta komunitas lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Wakil Rektor Universitas Mercu Buana, Dr. Irmulansati Tomohardjo menegaskan, bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tantangan besar yang membutuhkan pendekatan ekonomi baru.
Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan tantangan dalam rantai pasok global,”
kata Irmulansati dalam keterangannya yang diterima, Selasa, 9 Juni 2026.
Diperlukan model pembangunan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Prinsip Fair Trade menjadi salah satu pendekatan yang mendorong terciptanya sistem perdagangan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan,”
sambungnya.
Selain seminar, acara juga diramaikan dengan Mini Bazaar Fair Trade yang menampilkan berbagai produk hasil UMKM, komunitas kreatif, serta pelaku usaha berbasis keberlanjutan. Produk yang dipamerkan meliputi kerajinan tangan, fesyen, aksesori, makanan olahan, hingga produk ramah lingkungan.
Pengunjung juga diajak terlibat langsung dalam berbagai workshop interaktif, mulai dari demo memasak olahan singkong kreatif hingga kegiatan melukis topeng kayu yang menampilkan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Sementara itu, Kepala Biro Kewirausahaan Universitas Mercu Buana Dr. Daru Asih menilai kemitraan dengan berbagai organisasi Fair Trade menjadi langkah strategis dalam memperluas wawasan mahasiswa dan dosen mengenai bisnis berkelanjutan.
Menurutnya, isu keberlanjutan kini menjadi salah satu fokus utama kampus dalam mendorong lahirnya inovasi, penelitian, dan model bisnis yang memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Universitas Mercu Buana dan FFTI berharap kesadaran publik terhadap pentingnya perdagangan yang adil semakin meningkat.
Tidak hanya sebagai konsep ekonomi, tetapi juga sebagai gerakan yang mampu memperkuat posisi UMKM Indonesia di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat,”
ujarnya.
Di saat banyak pelaku usaha kecil masih berjuang menghadapi ketimpangan akses pasar dan modal, semangat Fair Trade diharapkan menjadi jalan tengah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir pihak, melainkan dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.



